Cirebon (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon, Jawa Barat, memastikan dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di wilayah tersebut hingga Senin belum menunjukkan kondisi yang signifikan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon Eko Kuswantoro di Cirebon, Selasa, mengatakan material abu kemungkinan telah terbawa angin hingga wilayah Cirebon, namun intensitasnya masih relatif rendah.

"Untuk dampak abu vulkanik (dari erupsi GAK sudah masuk), namun belum terlalu signifikan," katanya.

Menurut dia, abu vulkanik berpotensi menyebar cukup luas karena material erupsi terbawa angin pada ketinggian sekitar 15.000 kaki di atmosfer.

Kondisi tersebut, kata dia, membuat sebagian wilayah Jawa Barat berpotensi dilintasi sebaran abu, tetapi dampaknya di Kota Cirebon masih lebih rendah dibandingkan sejumlah wilayah lain.

Eko mengatakan, BPBD Kota Cirebon telah menerima arahan dari BPBD Provinsi Jawa Barat, untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan kondisi akibat sebaran abu vulkanik.

Ia meminta masyarakat tetap waspada dan mengikuti informasi resmi pemerintah, meskipun kondisi di Kota Cirebon saat ini masih relatif aman.

Pihaknya pun telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat melalui laman resmi dan media sosial, sebagai langkah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan dampak abu vulkanik.

“Sebagai bagian dari mitigasi, kami berencana membagikan masker kepada masyarakat dalam waktu dekat, termasuk di sejumlah ruas jalan,” katanya.

Eko mengatakan, jumlah masker yang disiapkan masih dalam pengecekan stok, dengan perkiraan sekitar 500 hingga 1.000 masker untuk tahap awal.

Selain itu, BPBD akan memberikan materi mengenai kewaspadaan terhadap sebaran abu vulkanik kepada 22 Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) dalam kegiatan monitoring dan evaluasi yang dijadwalkan berlangsung.

“Tambahan materi tersebut menjadi bagian dari penguatan edukasi kebencanaan agar masyarakat mampu melakukan langkah perlindungan diri apabila kondisi sebaran abu vulkanik di Cirebon mengalami perubahan,” ucap dia.

Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.