Jakarta, CNN Indonesia --

Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) kerap membuat orang tua dihadapkan pada berbagai pilihan, mulai dari makanan rumahan hingga produk instan yang praktis. Namun, belakangan muncul kekhawatiran mengenai makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF) yang disebut-sebut dapat meningkatkan risiko obesitas pada anak.

Lantas, apakah semua makanan instan bayi termasuk UPF? Benarkah pemberiannya bisa membuat anak mengalami obesitas?

Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, Diana Sunardi mengingatkan orang tua agar tidak terburu-buru memberikan label pada suatu produk pangan hanya berdasarkan bentuk atau cara penyajiannya. Proses pengolahan dan komposisi bahan perlu menjadi pertimbangan sebelum menentukan pilihan makanan untuk anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya, tidak semua produk MPASI instan bisa langsung dikategorikan sebagai pangan ultra-proses. Orang tua perlu melihat bagaimana produk tersebut dibuat serta bahan-bahan yang digunakan di dalamnya.

"Kalau memang sudah yakin itu UPF, jangan jadikan pilihan utama. Namun, tidak perlu juga sampai antipati. Kembali lagi, lihat proses pengolahan dan komposisinya," ujar Diana di Tangerang, Kamis (15/10).

Apakah semua makanan instan bayi termasuk UPF?

Makanan instan sering kali dianggap kurang sehat dibandingkan makanan yang dibuat sendiri di rumah. Padahal, penilaian terhadap kualitas pangan tidak cukup hanya berdasarkan apakah makanan tersebut instan atau rumahan.

Kategori pangan ultra-proses ditentukan berdasarkan tingkat dan jenis pengolahannya, serta karakteristik produk dan bahan yang digunakan. Karena itu, tidak semua makanan yang dikemas atau diolah otomatis tergolong UPF.

Pilihan Redaksi

  • 7 Kesalahan MPASI Ini Acap Dilakukan Orang Tua, Banyak Kegocek Medsos
  • 5 Tanda Bayi Siap MPASI yang Wajib Diketahui Orang Tua
  • Bukan Bikin Tinggi, Double Protein Malah Berpotensi Rusak Ginjal Anak

Pengolahan pangan pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Proses tertentu justru dapat membantu menjaga keamanan, memperpanjang masa simpan, dan membuat bahan pangan lebih mudah dikonsumsi.

Menurut Diana, orang tua perlu memahami komposisi produk sebelum memutuskan apakah makanan tersebut layak diberikan kepada anak. Produk instan juga tidak seharusnya menjadi satu-satunya pilihan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak sehari-hari.

Makanan yang dibuat di rumah dapat menjadi pilihan untuk memberikan variasi bahan pangan dan menyesuaikan tekstur sesuai usia anak. Sementara itu, produk instan dapat digunakan ketika dibutuhkan, dengan tetap memperhatikan kandungan gizi, petunjuk penyajian, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan anak.

Hal yang perlu dihindari adalah menjadikan makanan yang rendah kualitas gizinya sebagai pilihan utama secara terus-menerus, terutama jika hal tersebut membuat asupan makanan anak menjadi kurang beragam.

Makanan instan bayi bisa bikin obesitas?

Obesitas pada anak tidak bisa dijelaskan hanya dari satu jenis makanan. Kondisi ini berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk pola makan secara keseluruhan, keseimbangan asupan energi dan aktivitas fisik, serta faktor biologis dan lingkungan.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami obesitas akibat mengonsumsi makanan instan. Hal yang perlu diperiksa adalah kebiasaan makan anak secara menyeluruh, termasuk jenis makanan yang dikonsumsi, porsi, frekuensi makan, dan aktivitas hariannya.

Diana menjelaskan, pendekatan terhadap anak dengan berat badan berlebih perlu dimulai dengan mencari penyebab yang mendasarinya. Setelah itu, pola makan dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Pada anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan, penanganan berat badan juga perlu mempertimbangkan pertambahan tinggi badan dan perkembangan secara keseluruhan. Tujuannya bukan sekadar menurunkan angka pada timbangan, melainkan mendukung pertumbuhan yang sehat.

"Orang tua juga perlu memastikan anak mendapatkan aktivitas fisik yang cukup dan mengonsumsi makanan dengan komposisi gizi seimbang," katanya.

(tis/tis)