Bengkulu (ANTARA) - Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu Fajar Handoyo mengatakan Provinsi Bengkulu telah memasuki musim kemarau kendati hujan ringan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.

"Musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Hujan masih berpotensi terjadi, namun intensitasnya lebih rendah dibandingkan biasanya," kata dia di Bengkulu, Rabu.

Kondisi tersebut dipengaruhi angin monsun Australia yang membawa massa udara lebih kering sehingga curah hujan menurun dibandingkan kondisi normal.

Masyarakat, kata dia, jangan sampai salah persepsi ketika masih turun hujan satu atau dua hari, karena itu tidak berarti musim kemarau telah berakhir. BMKG masih memprakirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terjadi secara tidak merata di sejumlah wilayah Bengkulu.

Baca juga: Pemprov Bengkulu: Satrad TNI AU perkuat pertahanan udara daerah

Berdasarkan pemantauan BMKG, hujan ringan hingga sedang masih terjadi di Kabupaten Mukomuko, Rejang Lebong, dan Bengkulu Utara.

Sementara itu, Kota Bengkulu yang berada di kawasan pesisir memiliki kondisi cuaca yang lebih dinamis. Hujan masih dapat terjadi, tetapi umumnya hanya berupa hujan ringan dengan durasi yang relatif singkat.

Fajar mengatakan BMKG menetapkan musim kemarau berdasarkan kriteria meteorologi, bukan hanya melihat ada atau tidaknya hujan dalam satu atau dua hari. Penetapan musim kemarau dilakukan berdasarkan jumlah curah hujan dalam periode tertentu, termasuk akumulasi curah hujan selama satu dasarian atau 10 hari.

Ia mengatakan musim kemarau juga berpotensi mengurangi ketersediaan air karena dominasi angin monsun Australia menyebabkan kelembapan udara menurun sehingga pasokan uap air pembentuk awan hujan berkurang.

Kondisi tersebut dapat mempengaruhi sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga aktivitas masyarakat sehari-hari. Karena itu, seluruh sektor diminta mulai melakukan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi berkurangnya pasokan air selama puncak musim kemarau.

Baca juga: Pemkot Bengkulu: 200 pelaku UMKM meriahkan Festival Pantai Panjang

"Semua sektor perlu bersiap. Pertanian harus mengantisipasi jika kebutuhan air berkurang, pengelola sumber daya air juga perlu mengatur distribusi air dengan baik. Kita harus memitigasi sejak dini karena jumlah air yang tersedia diperkirakan akan lebih sedikit dibandingkan kondisi normal," katanya.

BMKG mengimbau masyarakat terus memantau informasi prakiraan cuaca resmi dan menggunakan air secara bijak selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus 2026.

Pewarta: Anom Prihantoro
Uploader : Musriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.