BMKG meminta warga tak terkecoh hujan saat musim kemarau
Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat tidak terkecoh dengan hujan ringan yang turun dalam beberapa hari terakhir hingga beberapa hari ke depan mengingat saat ini masih fase musim kemarau.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Ari Wibianto mengatakan hujan ringan yang turun di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan pertanda peralihan musim.
"Hujan ringan di beberapa wilayah NTB akhir-akhir ini disebabkan anomali suhu muka laut yang menyebabkan peningkatan potensi penguapan. Hal itu menyebabkan adanya pembentukan awan," ucapnya di Mataram, NTB, Jumat.
Ari menuturkan hujan ringan saat musim kemarau adalah fenomena yang normal, sehingga masyarakat perlu memahami indikator pergantian musim agar tidak salah menafsirkan kondisi cuaca.
Indikator pertama yang menandakan saat ini masih musim kemarau berupa hujan yang turun umumnya hanya berlangsung selama satu hingga dua hari, kemudian diikuti beberapa hari tanpa hujan.
Kedua, arah angin masih didominasi dari timur hingga tenggara. Pola tersebut menandakan Monsun Australia masih aktif dan menjadi indikator bahwa musim kemarau masih berlangsung.
Indikator ketiga adalah kelembapan udara masih cenderung rendah atau kering. Selain itu, suhu udara relatif panas pada siang hari, sedangkan malam hingga dini hari terasa lebih dingin akibat minimnya tutupan awan.
Baca juga: Penguatan Monsun Australia picu angin kencang di NTB
Ari menegaskan kondisi atmosfer secara umum masih menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Barat berada dalam musim kemarau. Puncak kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus 2026.
Pada 23-29 Juli 2026, BMKG memprakirakan cuaca secara umum cerah hingga hujan ringan di wilayah Nusa Tenggara Barat dengan suhu udara rentang 18 sampai 33 derajat Celcius.
Angin permukaan bertiup dengan variasi arah dominan tenggara hingga selatan dengan kecepatan maksimum 40 sampai 45 kilometer per jam.
BMKG imbau masyarakat agar waspada terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun pemukiman dengan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026