BNN ajak semua pihak bergandengan tangan cegah narkoba - ANTARA News Megapolitan
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Suyudi Ario Seto mengajak semua pihak untuk bergandengan tangan guna mencegah peredaran gelap narkoba.
"Narkoba sudah ada di pekarangan sekolah, bahkan di pesantren-pesantren. Ini bukan katanya, ini data dan fakta yang kita dapatkan. Prihatin. Ya. Tapi cuma prihatin doang? Enggak cukup. Kita harus berjuang, kita harus bergandengan tangan, kita sama-sama," kata Suyudi Ario Seto pada Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Pancasila di Jakarta, Kamis.
Ia berharap jadilah agen perubahan dan agen pencegahan negara. Jangan apatis jika melihat temannya sudah mulai terindikasi narkoba jangan didiamkan.
"Kalau masih bisa diajak bicara baik-baik, ingatkan. Kalau tidak bisa, salurkan," katanya.
Baca juga: Univeristas Pancasila gandeng BNN cegah penyalahgunaan narkoba di kalangan mahasiswa
Suyudi menginginkan adik-adik mendapatkan edukasi yang baik, literasi yang cukup. Jadilah agen pencegahan yang bijak, yang baik, yang tidak apatis.
Tapi kalau dari ruangan ini saya keluar, ternyata saya mendengar masih ada praktik-praktik peredaran, masih ada yang coba-coba, maka saya akan tidak ragu-ragu menindak.
Masalah narkoba katanya bukan sekadar persoalan kriminalitas profesional saja, tapi kegiatan ini telah berevolusi sangat cepat menjadi kejahatan multidimensi yang bekerja secara terorganisir dan merusak fondasi demografi bangsa secara sistematis.
Melihat data berdasarkan laporan World Drug Report tahun 2026 dari UNODC, diperkirakan sebanyak 331 juta manusia atau orang di dunia menggunakan narkoba pada tahun 2024.
Baca juga: Universitas Pancasila dukung penuh pemberantasan narkoba di lingkungan kampus
Tapi kita tahu teori gunung es, ya mungkin data itu adanya di permukaan. Tapi di bawah permukaan pasti jauh lebih besar daripada itu.
Dari angka global tersebut, memperlihatkan lonjakan menjadi 6,2 persen dari total populasi dunia yaitu berusia 15 sampai dengan 64 tahun. Sehingga fakta ini menjadikan alarm keras bahwa eskalasi paparan narkotika sudah meluas secara masif di belahan bumi ini, termasuk di Indonesia.
Kita lihat di Indonesia angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia sudah sampai di angka 2,11 persen.
Jadi kalau dikonversi ke jumlah penduduk, hampir 4,15 juta masyarakat Indonesia yang terpapar. Sekali lagi itu, kalau kita lihat teori gunung es itu data di atas, tapi di bawahnya bisa dua kali lipat atau bahkan lebih banyak.
"Ini PR besar buat kita semua. Dan saya sampaikan bahwa kelompok yang paling rentan ya, dari data itu adalah usia 15 hingga 24 tahun, ya," katanya.
Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.