AKURAT.CO Pemerintah mendorong hilirisasi industri kelapa sawit memasuki tahap yang lebih luas.

Jika selama ini pengembangan produk turunan lebih banyak berfokus pada biodiesel, ke depan industri sawit diharapkan berkembang ke sektor pangan, kesehatan, hingga material ramah lingkungan.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan, Eddy Abdurrachman mengatakan, Indonesia perlu bertransformasi dari produsen bahan baku menjadi pusat inovasi berbasis kelapa sawit.

Baca Juga: BPDP: Masa Depan Sawit Bergantung pada Produktivitas, Bukan Tambah Lahan

Menurut dia, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengembangan biodiesel karena masih terdapat banyak peluang pengembangan produk bernilai tambah tinggi.

Potensi tersebut antara lain mencakup produk pangan berbasis sawit, kosmetik, farmasi, oleokimia, biomaterial, bioplastik, surfaktan, pelumas ramah lingkungan, hingga bioavtur dan bahan bakar nabati generasi lanjut.

"Hilirisasi sawit harus menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional," ujar Eddy saat membuka PERISAI 2026 di Jakarta, Senin (20/7/2026).

BPDP menilai setiap inovasi yang berhasil dikembangkan berpotensi melahirkan produk baru. Produk tersebut kemudian dapat menciptakan industri baru yang pada akhirnya membuka peluang investasi, memperluas lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Oleh karena itu, lanjut Eddy, pihaknya ingin memperkuat fungsi lembaga tidak hanya sebagai penyedia dana riset, tetapi juga sebagai katalis yang mempertemukan peneliti, pelaku industri, dan petani agar hasil penelitian lebih cepat diterapkan dalam kegiatan ekonomi.

Baca Juga: BPDP Perkuat Ekspansi Sawit Indonesia ke Rusia dan Eurasia Lewat Kerja Sama Strategis

Transformasi tersebut dinilai penting mengingat industri sawit telah menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 16 juta masyarakat Indonesia, sehingga peningkatan nilai tambah di sektor hilir diharapkan memberi manfaat ekonomi yang lebih luas.