Bunga The Fed Naik, Wamenkeu Ungkap Dampaknya ke Utang RI - Keuangan Katadata.co.id
Kenaikan suku bunga bank sentral Amerila Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, berpotensi memberikan tekanan terhadap pembiayaan utang Indonesia. Pemerintah mengakui perubahan suku bunga global akan memicu repricing alias penyesuaian pada instrumen utang, meski dampaknya saat ini dinilai masih dalam level yang wajar.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan, perubahan kondisi suku bunga global memang akan berpengaruh terhadap harga dan biaya penerbitan surat utang pemerintah. “Ya, saya kira itu tentu saja ada repricing ya, tapi saya kira kita masih dalam level yang wajar lah,” kata Juda kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (17/9).
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pemerintah masih membutuhkan pembiayaan melalui penerbitan Surat Utang Negara atau SUN demi menutup kebutuhan anggaran. Perubahan tingkat suku bunga global dapat memengaruhi tingkat imbal hasil atau yield yang harus ditawarkan pemerintah kepada investor saat menerbitkan surat utang baru.
Kendati demikian, pemerintah tetap membuka berbagai sumber pembiayaan sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Salah satu instrumen yang masih akan digunakan adalah Panda Bond, yakni surat utang yang diterbitkan di pasar Cina dan berdenominasi yuan. “Oh iya itu tetap, tetap Panda Bond, tetap,” kata Juda.
Sementara itu, Juda belum mengungkapkan besaran penerbitan global bond pemerintah berikutnya. Hal tersebut termasuk rencana penggunaan kuota global bond yang masih tersisa sekitar US$ 2 miliar. “Iya, itu nanti kami update ya,” katanya.
Adapun, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada Rabu (16/9) waktu setempat. Kenaikan menjadi yang pertama sejak Juli 2023 dan membuka peluang kenaikan lanjutan seiring inflasi yang dinilai masih tinggi.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan, langkah tersebut diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke target bank sentral. Menurut dia, tekanan harga masih terjadi di berbagai kategori barang dan jasa dengan laju inflasi tahunan yang masih berada di atas 3% dalam periode enam hingga 12 bulan terakhir.
“Kami mengurangi tingkat akomodasi kebijakan agar kondisi keuangan dan kredit lebih sesuai dengan tujuan akhir kami,” kata Warsh dalam konferensi pers.
“Tindakan hari ini menunjukkan bahwa kami serius menjaga stabilitas harga.”
Warsh menilai data inflasi pada musim panas tahun ini belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Karena itu, The Fed memandang pengetatan kebijakan masih diperlukan.
Pernyataan Warsh mengenai pengurangan tingkat akomodasi kebijakan turut menarik perhatian pelaku pasar. Kepala Ekonom Morgan Stanley, Michael Gapen, menilai pernyataan tersebut mencerminkan sikap hawkish bank sentral.
“Jika ketua The Fed menilai kebijakan saat ini masih akomodatif, berarti masih ada pekerjaan yang harus dilakukan,” kata Gapen dikutip dari Bloomberg, Kamis (17/9).
Seusai pengumuman tersebut, pasar langsung bereaksi. Imbal hasil obligasi Treasury bertenor dua tahun naik ke level 4,73%, atau lebih dari 12 basis poin dibandingkan sebelum pengumuman. Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun juga berbalik naik dan menembus level 5%.