Jakarta, CNN Indonesia --

Perencanaan dana pendidikan menjadi salah satu hal yang perlu disiapkan orang tua sejak anak usia dini.

Selain rutin menabung, orang tua juga perlu memperkirakan kebutuhan biaya sekolah di masa depan, memilih instrumen investasi yang sesuai, hingga mengantisipasi kenaikan biaya pendidikan agar target dana dapat tercapai.

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan langkah awal yang perlu dilakukan adalah memperkirakan besaran biaya pendidikan yang akan dibutuhkan anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Andi, orang tua dapat mulai mencari informasi melalui survei ke sekolah yang menjadi tujuan, bertanya kepada orang tua murid, maupun memanfaatkan informasi yang tersedia di internet.

"Setelah mengetahui berapa dana yang dibutuhkan, dan dengan usia anak saat ini, orang tua mengestimasi berapa lama waktu yang dimiliki untuk menabung dan berapa banyak yang sebaiknya disisihkan tiap bulannya untuk dana pendidikan anak," ujar Andi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/7).

Setelah memiliki gambaran kebutuhan dana, orang tua dapat mulai menyisihkan uang secara rutin.

Dana tersebut dapat ditempatkan pada tabungan pendidikan, instrumen investasi, maupun asuransi pendidikan sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing keluarga.

"Mulai menabung untuk dana pendidikan anak. Bisa melalui tabungan pendidikan berupa rekening bank, ataupun instrumen investasi serta asuransi pendidikan," ujarnya.

Menurut Andi, pemilihan instrumen investasi juga harus disesuaikan dengan jangka waktu sebelum dana digunakan. Semakin dekat kebutuhan dana, semakin rendah pula risiko investasi yang sebaiknya dipilih.

"Pertama hitung dan perhatikan waktu yang dimiliki untuk menabung dana pendidikan tersebut apakah jangka pendek, jangka menengah, atau jangka panjang," jelasnya.

Untuk kebutuhan dana dalam waktu kurang dari tiga tahun, Andi menyarankan instrumen berisiko rendah seperti deposito, logam mulia, atau reksa dana pasar uang.

Sementara untuk jangka menengah sekitar tiga hingga lima tahun, pilihan dapat diarahkan ke Obligasi Negara Ritel (ORI), Sukuk Ritel, logam mulia, reksa dana pendapatan tetap, maupun reksa dana campuran.

Apabila waktu yang dimiliki lebih dari lima tahun, orang tua dapat mempertimbangkan instrumen dengan potensi imbal hasil lebih tinggi seperti saham, reksa dana saham, menjalankan bisnis, hingga investasi di sektor agribisnis seperti tanaman jati atau sengon.

Selain memilih instrumen investasi, Andi mengingatkan orang tua juga perlu memperhitungkan inflasi pendidikan agar target dana yang disiapkan tidak meleset ketika anak mulai bersekolah.

"Menghitung biaya pendidikan yang dibutuhkan nanti ketika anak tiba waktunya masuk sekolah dilakukan dengan menghitung biaya saat ini, kemudian menggunakan konsep time value of money dengan memasukkan unsur inflasi pendidikan," ujar Andi.

Ia juga menyarankan diversifikasi investasi agar risiko dapat tersebar ke beberapa instrumen.

Di samping itu, perlindungan melalui asuransi pendidikan juga dapat dipertimbangkan agar pendidikan anak tetap berjalan apabila pencari nafkah mengalami risiko meninggal dunia, sakit, atau kecelakaan sehingga tidak lagi dapat bekerja.

"Ada atau tidak adanya orang tua atau pencari nafkah, si anak harus tetap sekolah. Maka di-cover memakai asuransi pendidikan," ujarnya.

Senada, Perencana Keuangan OneShildt Budi Rahardjo mengatakan waktu menjadi salah satu faktor terpenting dalam mempersiapkan dana pendidikan anak.

Karena itu, orang tua sebaiknya mulai menyisihkan dana sejak anak lahir meski belum memiliki gambaran pasti mengenai biaya pendidikan di masa depan.

"Waktu adalah teman terbaik kita untuk mempersiapkan. Semakin dini mempersiapkan semakin baik," ujar Budi.

Menurutnya, setelah mulai menabung, orang tua perlu menentukan target dana pendidikan yang ingin dicapai. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah memanfaatkan kalkulator dana pendidikan untuk memperkirakan kebutuhan biaya dan besaran tabungan yang perlu disiapkan.

Budi mengatakan perencanaan tersebut juga membantu keluarga menentukan pilihan sekolah yang sesuai dengan kemampuan finansial, baik sekolah negeri, swasta nasional, maupun internasional.

Perhitungan itu juga penting bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak agar tidak terjadi kesenjangan dalam pembiayaan pendidikan.

Selanjutnya, dana pendidikan perlu ditempatkan pada instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko masing-masing orang tua agar dapat berkembang mengikuti kenaikan biaya pendidikan.

"Pilih instrumen investasi yang dipahami dan sesuai dengan profil kita dalam berinvestasi," ujarnya.

Untuk investor dengan profil moderat, Budi menyarankan kombinasi instrumen pasar uang dan pendapatan tetap seperti Surat Berharga Negara (SBN) untuk kebutuhan jangka pendek. Pada jangka menengah, portofolio dapat dibagi lebih seimbang antara pasar uang, pendapatan tetap, dan saham.

Sementara itu, untuk kebutuhan jangka panjang, porsi investasi dapat lebih banyak ditempatkan pada saham sebagai aset pertumbuhan, dengan sebagian dana tetap dialokasikan ke instrumen pendapatan tetap dan pasar uang sebagai penyeimbang.

"Namun untuk lebih akuratnya konsultasikan dengan financial advisor yang kompeten sesuai dengan kondisi finansial dan karakternya," ujar Budi.

Selain investasi, Budi juga menyarankan orang tua menyiapkan proteksi agar dana pendidikan tidak terganggu apabila keluarga menghadapi risiko kesehatan atau risiko meninggal dunia pada pencari nafkah.

"Siapkan rencana proteksi untuk menjamin apabila terjadi risiko meninggal dini atau kesehatan maka dana pendidikan tidak terganggu karena terpakai untuk membiayai risiko," tutur dia.

Ia juga mengingatkan pentingnya melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan investasi sehingga penyesuaian dapat segera dilakukan apabila hasil investasi belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

"Lakukan monitoring berkala dari rencana investasi agar koleksi dapat segera dilakukan apabila hasil investasi tidak sesuai harapan," jelas Budi.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr)

Add

as a preferred
source on Google