Cerita Satya, Desainer Down Syndrome Bermimpi Karyanya Terkenal
CNN Indonesia
Kamis, 23 Jul 2026 06:27 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Bagi Satya, pensil dan buku sketsa bukan sekadar alat menggambar. Di tangannya, lembar demi lembar kertas berubah menjadi ilustrasi yang penuh warna dan cerita tentang Indonesia.
Pria berusia 26 tahun penyandang Down Syndrome itu mengaku sudah lama jatuh cinta pada dunia menggambar. Hingga kini, ia tetap setia menuangkan ide di atas buku sketsa menggunakan pensil, bukan lewat iPad atau perangkat digital.
"Aku memang suka menggambar. Pakainya pensil sama buku sketsa. Aku bisa gambar sendiri, enggak mau dibantu," kata Satya saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecintaannya pada budaya Indonesia kemudian ia tuangkan ke dalam desain pakaian. Satya memilih berbagai ikon Nusantara, mulai dari bunga Rafflesia arnoldi, arca di Candi Borobudur, hingga Monumen Nasional (Monas).
"Aku suka tempat-tempat itu, makanya aku gambar. Semoga nanti baju yang aku desain bisa dipajang di mal dan dipakai banyak orang," ujarnya.
Mimpi itu kini mulai menemukan jalannya. Melalui kolaborasi Bohopanna dan Seribu Paras, ilustrasi karya Satya menjadi bagian dari koleksi pakaian anak yang diluncurkan menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia. Bertepatan dengan momentum menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia, koleksi tersebut menjadi ajakan untuk memaknai kemerdekaan dari sudut pandang anak-anak.
Bahwa setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, bermain, berkarya, dan mengekspresikan dirinya. Kolaborasi ini menjadi langkah baru bagi Bohopanna sebagai kerja sama pertamanya dengan komunitas anak penyandang Down Syndrome di Indonesia.
Sebanyak enam anak Seribu Paras menghadirkan ilustrasi orisinal yang kemudian diterjemahkan ke dalam tujuh artikel koleksi terbaru Bohopanna x Seribu Paras, yakni Stripe Polo Shirt Girl, Stripe Polo Playsuit Girl, Stripe Polo Shirt, Stripe Polo Playsuit, Crew Tee, Washed Top Tee, dan Nino Shirt. Koleksi tersebut tersedia untuk bayi hingga anak usia 14 tahun.
Pilihan Redaksi
- Tampil Flawless, MUA Pamerkan Riasan Akad Nikah Syifa Hadju
- "Puspa" Tandai 15 Tahun Desainer Ayu Dyah Andari Berkarya
- Metro PIM Jakarta Kini Punya 'Wajah' Baru, Lebih Modern dan Terkurasi
Bagi Cindy Go, Founder Seribu Paras, kolaborasi tersebut bukan sekadar menghadirkan produk fesyen, tetapi juga membuka ruang bagi anak-anak penyandang Down Syndrome untuk menunjukkan kemampuan mereka kepada masyarakat.
Didirikan pada 2019, Seribu Paras menjadi wadah bagi anak-anak penyandang Down Syndrome untuk mengembangkan minat dan bakat mereka agar dapat hidup lebih mandiri. Di komunitas ini, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai bidang, mulai dari modeling, menggambar, musik, hingga pelatihan menjadi barista.
"Tujuannya agar anak-anak Down Syndrome ini bisa hidup seperti masyarakat pada umumnya, bekerja, dan mendapatkan pekerjaan," ujar Cindy.
Saat ini, terdapat tujuh anak yang terlibat dalam proses kolaborasi desain bersama Bohopanna. Menurut Cindy, setiap anak memiliki potensi yang luar biasa ketika diberi kesempatan yang tepat.
"Setiap anak memiliki potensi luar biasa ketika diberi kesempatan. Melalui kolaborasi ini, karya mereka tidak hanya diapresiasi, tetapi juga dapat dinikmati oleh lebih banyak keluarga. Kami berharap semakin banyak pihak yang melihat bahwa setiap anak mampu berkarya dan layak mendapatkan kesempatan yang sama," katanya.
Founder Bohopanna, Devy Natalia, mengatakan sejak awal pihaknya ingin menghadirkan pakaian anak yang tidak hanya nyaman dikenakan, tetapi juga membawa cerita dan nilai di balik setiap koleksinya.
"Sejak awal, Bohopanna ingin menjadi brand yang tidak hanya menghadirkan pakaian anak, tetapi juga membawa cerita dan nilai di balik setiap koleksinya. Kami senang visi tersebut disambut baik oleh teman-teman Seribu Paras, sehingga bersama-sama kami dapat menghadirkan koleksi yang bermakna," ujar Devy.
Memaknai kemerdekaan dari sudut pandang anak
Anak-anak Downsyndrome yang berani berkarya. (Foto: CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Bagi Bohopanna, Hari Kemerdekaan bukan sekadar momen mengenang sejarah. Lebih dari itu, kemerdekaan dimaknai sebagai kesempatan bagi setiap anak untuk tumbuh, berekspresi, dan berkembang sesuai keunikannya masing-masing.
Semangat tersebut diwujudkan melalui ilustrasi penuh warna karya anak-anak Seribu Paras. Setiap gambar merefleksikan keberanian, kreativitas, serta kebebasan anak untuk menjadi dirinya sendiri.
"Bagi kami, kemerdekaan berarti setiap anak merasa diterima, dihargai, dan memiliki ruang untuk mengekspresikan dirinya. Itulah semangat yang ingin kami rayakan pada Hari Kemerdekaan tahun ini," kata Devy.
Ia menjelaskan, koleksi tersebut juga dirancang agar anak-anak dapat bergerak bebas, bermain dengan nyaman, dan percaya diri dalam setiap aktivitasnya. Selain itu, desain yang mengangkat berbagai elemen budaya Indonesia diharapkan dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenalkan kekayaan budaya Nusantara sejak dini.
"Melalui koleksi ini, kami ingin menunjukkan bahwa fashion dapat menjadi medium untuk merayakan keberagaman, menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus mengajak anak-anak mencintai budaya Indonesia," ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, Bohopanna berharap semangat kemerdekaan dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk menciptakan ruang yang menerima keberagaman dan memberi kesempatan bagi setiap anak untuk berkembang.
Bagi Satya, kesempatan tersebut menjadi langkah kecil menuju mimpi besarnya. Dari goresan pensil di buku sketsa hingga menjadi desain yang hadir di koleksi pakaian anak, ia membuktikan bahwa kreativitas tak mengenal batas. Dan suatu hari nanti, seperti yang ia harapkan, karya-karyanya mungkin akan terpajang di pusat perbelanjaan dan dikenakan oleh semakin banyak orang.
(tis/tis)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNN]