Warta Ekonomi, Jakarta -

PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) memperluas bisnis keamanan siber dengan membidik sektor strategis dan infrastruktur kritis Indonesia, mulai dari BUMN industri pertahanan, perbankan, telekomunikasi, hingga pertambangan dan energi.

Ekspansi tersebut dilakukan melalui peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy. Akademi ini tidak hanya menyasar pengembangan talenta, tetapi juga menjadi bagian dari upaya perseroan memperluas layanan keamanan siber ke sektor yang mengelola sistem teknologi informasi (IT) dan teknologi operasional (operational technology/OT).

Presiden Komisaris ITSEC Asia Richardus Eko Indrajit mengatakan sektor yang menguasai infrastruktur kritis memiliki kebutuhan besar terhadap perlindungan keamanan siber karena serangan terhadap sistem OT dapat berdampak langsung terhadap operasional fisik dan keselamatan manusia.

"Semua yang menguasai hajat hidup orang banyak atau critical infrastructure, negara wajib untuk melindunginya. Dan kami menjadi mitra untuk bisa bantu melindungi," ujar Eko dalam acara Peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut Eko, serangan siber terhadap sistem IT umumnya berdampak pada data dan sistem informasi. Sementara itu, serangan terhadap OT dapat mengganggu sistem kendali yang digunakan dalam operasional industri.

Ia mencontohkan sistem kendali pada industri pertambangan, transportasi, hingga peralatan medis di rumah sakit. Gangguan terhadap sistem tersebut dapat menimbulkan dampak langsung terhadap aktivitas fisik, tidak hanya menghentikan layanan digital.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi ITSEC Asia untuk memperluas pasar layanan keamanan siber di tengah percepatan transformasi digital dan adopsi kecerdasan artifisial (AI) oleh korporasi. Eko menilai peningkatan digitalisasi perlu diikuti dengan penguatan sistem keamanan.

"Kalau tidak didampingi dengan sistem keamanan, sama seperti Anda membuat mobil tapi tidak ada remnya. Berani tidak ngebut? Tidak berani. Namun, kalau ada sistem dan *security-*nya bagus, silakan ngebut," jelasnya.

Dari sisi pasar, ITSEC Cyber & AI Academy membidik BUMN holding, industri pertahanan, perguruan tinggi, serta sektor yang mengelola infrastruktur kritis. ITSEC Asia juga tengah menjalin kerja sama dengan holding BUMN industri pertahanan Defend ID yang membawahi PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan PT Dirgantara Indonesia.

Target pasar lainnya mencakup instalasi militer, lembaga keuangan dan perbankan, telekomunikasi, serta industri ekstraktif seperti pertambangan dan energi yang menggunakan sistem OT.

Eko mengatakan akademi tersebut menggunakan konsep living syllabus dan customized curriculum. Materi pelatihan diperbarui berdasarkan kasus keamanan siber yang terjadi di lapangan.

Pendekatan tersebut dinilai diperlukan karena pola serangan siber berubah cepat sehingga materi pembelajaran harus dapat menyesuaikan perkembangan ancaman.

"Orang akademik atau kampus biasanya lapor dulu untuk membuat silabus. Padahal yang namanya serangan siber, setiap menit memiliki karakteristik berbeda. Tidak sempat membuat silabusnya," kata Eko.

Baca Juga: Indonesia Butuh 9 Juta Talenta Digital, ITSEC Asia Buka Akademi AI dan Cybersecurity

Baca Juga: ITSEC Asia Gandeng PT INTI, Bidik Proyek Keamanan Siber BUMN

Praktisi ITSEC Asia yang menangani serangan siber di kementerian, lembaga, BUMN, hingga sektor perbankan juga dilibatkan dalam pembelajaran. Kasus seperti ransomware dan kebocoran data digunakan sebagai simulasi penanganan insiden.

"Kami ini anak perusahaan keamanan siber ITSEC Asia. Jadi bukan hanya teori yang kami ajarkan, melainkan langsung dari praktik use case riil yang benar-benar terjadi dari lapangan kita masukkan ke dalam silabus," ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.