Dalang Pencurian Permata Louvre Kecewa, Hasil Rampokan Kurang Banyak
Paris -
Penyelidikan kasus pencurian perhiasan bersejarah di Museum Louvre, Paris, mengungkap fakta baru. Dua pria yang diduga menjadi pelaku mengaku sosok yang diduga menjadi dalang pencurian justru kecewa karena hasil rampasan dari museum itu dinilai terlalu sedikit.
Pengakuan tersebut disampaikan kedua tersangka saat diperiksa hakim penyidik Prancis bulan lalu. Pencurian yang terjadi pada Oktober 2025 itu sempat menghebohkan dunia dan menjadi salah satu peristiwa terbesar yang menimpa museum paling banyak dikunjungi di dunia.
Melansir The Guardian, Selasa (14/7/2026) dua tersangka, Abdoulaye N dan Ghelamallah A, mengaku membobol Galeri Apollo atas perintah seorang klien yang identitasnya masih mereka rahasiakan. Mereka mengaku tidak berani menyebut nama orang tersebut karena khawatir keselamatan keluarga mereka terancam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam aksi itu, keduanya membawa delapan koleksi perhiasan bersejarah, mulai dari bros, kalung, hingga anting. Namun saat kabur, mahkota bertabur permata milik Permaisuri Eugenie, istri Napoleon III, terjatuh dari tas salah satu pelaku hingga rusak.
"Ya, itu saya. Mahkota itu jatuh dari tas saya," kata Abdoulaye kepada penyidik.
Abdoulaye N mengatakan seluruh perhiasan yang berhasil dicuri diserahkan kepada orang yang diduga menjadi otak pencurian. Namun, menurutnya, sosok tersebut tidak puas.
"Dia tidak senang. Dia berpikir kami seharusnya bisa mengambil lebih banyak," ujarnya.
Kedua tersangka mengaku baru direkrut dua hingga tiga hari sebelum pencurian. Sebelum beraksi, mereka diperlihatkan video bagian dalam Galeri Apollo yang memperlihatkan lokasi etalase koleksi perhiasan era Napoleon.
"Misi kami jelas, memecahkan kaca dan mengambil perhiasan di dalam etalase," lanjut Abdoulaye.
Museum Louvre. (REUTERS/Sarah Meyssonnier)
Abdoulaye mengaku menerima tawaran itu karena terlilit masalah keuangan. Ia dijanjikan bayaran 15 ribu hingga 25 ribu euro (Rp 300 hingga 515 juta), bahkan bisa lebih jika nilai hasil curian tinggi. Sementara Ghelamallah A mengaku awalnya mengira target mereka hanyalah sebuah toko perhiasan di Paris.
"Kalau saya tahu itu Louvre, saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di sana," ungkapnya.
Menurut pengakuan keduanya, mereka masuk ke museum melalui balkon lantai satu menggunakan lift pengangkut furnitur sebelum memecahkan jendela Galeri Apollo dan membobol dua etalase.
"Saat masuk, tidak ada siapa pun, gelap, hanya lampu etalase yang menyala. Dari kejauhan saya melihat petugas keamanan bergerak di balik pintu," ujar Abdoulaye.
"Kami harus mengambil perhiasan sebanyak mungkin, kalau lebih dari tiga menit, kami harus pergi karena keberadaan kami akan diketahui. Menurut saya, kami sudah terlalu lama berada di dalam," tambahnya.
Hingga kini, kedua tersangka mengaku tidak mengetahui keberadaan perhiasan yang dicuri setelah diserahkan kepada dalang. Mereka juga tetap menolak mengungkap identitas orang tersebut maupun pihak lain yang diduga terlibat.
"Mereka bukan orang yang bisa dianggap remeh. Saya memang tidak diancam, tetapi saya menerima telepon dari luar saat ditahan, mereka meminta saya tetap diam," jelas Abdoulaye.
Laporan Le Monde menyebut penyidik masih belum memastikan apakah kedua tersangka benar-benar beraksi atas perintah pihak lain. Proses penyelidikan untuk mengungkap dalang pencurian dan melacak keberadaan perhiasan bersejarah yang hilang masih terus berlangsung.
(upd/wsw)