Dari Jamur Tak Terjual Jadi Cuan, Kisah Ibu Astuti Bangun Usaha hingga Pimpin Bank Sampah
Liputan6.com, Balikpapan - Berawal dari dapur sederhana berukuran tiga kali tiga meter, Ibu Astuti mulai merintis usaha untuk membantu menopang ekonomi keluarga. Keterbatasan ruang tidak menghalanginya untuk mencari peluang dan mengembangkan usaha dari lingkungan sekitar.
Sebagai nasabah PNM Mekaar, Ibu Astuti merintis usaha olahan jamur tiram dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Baginya, memulai usaha bukan sekadar tentang menghasilkan pendapatan, tetapi juga tentang bagaimana memastikan dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga dapat terus terpenuhi.
Tidak semua hasil panen jamur tiram Ibu Astuti selalu berakhir di tangan pembeli. Ada kalanya sebagian jamur segar belum terserap pasar. Dalam kondisi tersebut, waktu menjadi penting karena jamur yang tidak segera terjual bisa berakhir menjadi sisa.
Ibu Astuti kemudian mencari jalan keluar. Daripada membiarkan jamur terbuang, ia mengolahnya menjadi produk yang lebih tahan disimpan, yakni Jamur Krispi dan Stik Jamur. Dari persoalan sederhana itu, muncul peluang baru. Hasil panen yang sebelumnya berisiko terbuang kini dapat diolah dan dipasarkan dalam bentuk berbeda dengan nilai jual tambahan.
“Dulu saya hanya berpikir bagaimana jamur yang tak habis terjual tidak terbuang. Sekarang saya tahu, dari sesuatu yang hampir terbuang itu, bisa tumbuh sebuah usaha, harapan untuk keluarga, bahkan manfaat untuk banyak orang,” ujar Ibu Astuti.
Bagi Ibu Astuti, perubahan tersebut bukan hanya soal bertambahnya jenis produk. Ia mulai melihat usahanya dengan cara yang berbeda. Masalah pasar yang sebelumnya menjadi tantangan justru mendorongnya untuk lebih kreatif dalam mengolah produk dan mencari nilai tambah dari apa yang sudah dimiliki.
Di titik inilah pemberdayaan menjadi penting. Pembiayaan memberikan ruang bagi pengusaha ultra mikro untuk bergerak, sementara pendampingan membantu mereka menemukan cara agar usaha tersebut dapat terus bertumbuh. Kombinasi keduanya menjadi bagian dari pendekatan PNM dalam mendampingi nasabah agar tidak berhenti hanya pada akses modal.