Daya Beli Kelas Menengah Tergerus, GAIKINDO Kejar Target Penjualan Mobil |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), Kukuh Kumara, mengatakan daya beli masyarakat kelas menengah Tanah Air masih mengalami tekanan. Menurutnya, hal itu menjadi tantangan dalam menggenjot penjualan mobil nasional.
“Dari data kami, juga kerja sama dengan lembaga penelitian, menunjukkan bahwa kelas menengah kita itu daya belinya masih tertekan,” ungkap Kukuh seusai menghadiri konferensi pers penyelenggaraan GIIAS Semarang 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (16/9/2026).
Dia menambahkan, harga mobil di Tanah Air mengalami kenaikan setiap tahunnya. “Naiknya sekitar tujuh persen per tahun. Sementara daya belinya naiknya hanya tiga persen. Jadi ada gap, kan. Nah, ini masih tertekan,” ujarnya.
“Akibatnya, kita berupaya untuk menembus penjualan 850 ribu (unit mobil), mudah-mudahan tercapai. Padahal potensi (penjualan mobil) kita seharusnya lebih dari 1 juta,” tambah Kukuh.
Dia mengatakan angka penjualan mobil di Indonesia pada 2025 mencapai 803 ribuan unit. Jumlah tersebut menurun jika dibandingkan dengan 2024 yang mencapai 835 ribu unit.
Menurutnya, pasar mobil di Indonesia bisa dibilang stagnan ketika angka penjualan masih di bawah atau setara 1 juta unit. “Intinya kalau belum 1 juta itu, 1 juta saja masih stagnan. Apalagi kalau masih di bawah 1 juta, berarti daya beli secara keseluruhan belum pulih,” ucapnya.
Kukuh mengungkapkan, penjualan 850 ribu unit mobil merupakan target yang hendak dicapai GAIKINDO tahun ini. Hingga Agustus 2026, angka penjualan sudah mencapai 500 ribuan unit.
Menurut Kukuh, dibandingkan dengan mobil unit baru, angka penjualan mobil bekas masih lebih menggeliat. “Pasar mobil bekas itu sekitar 1,6-1,7 juta (unit) setahun. Mobil barunya hanya 800 ribuan dua tahun belakangan ini,” ujarnya.
Kukuh mengatakan kondisi tersebut harus dibalik. “Kalau mobil barunya laku berarti industrinya jalan. Industrinya jalan berarti lapangan kerja jalan,” ucapnya.
Dia berpendapat, ketika industri otomotif lesu, hal itu dapat menimbulkan efek domino. “Otomotif ini menjadi salah satu salah satu sektor industri pengolahan yang dampaknya luar biasa, memberikan lapangan kerja kurang lebih di sekitar 1,5 juta orang. Nah, ini kan lagi nggak optimal,” katanya.
Kukuh menambahkan, kapasitas produksi kendaraan dalam negeri mencapai 2,5 juta unit per tahun. “Tapi kenyataannya, kita hanya memproduksi kurang dari 2 juta,” ujar dia.