Semarang (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Semarang menjelaskan bahwa penyebab keracunan ratusan siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 6 Semarang usai menyantap makanan program makan bergizi gratis (MBG) masih diteliti.

Kepala Dinkes Kota Semarang Abdul Hakam, di Semarang, Selasa, mengatakan bahwa sampel makanan telah dikirim untuk diteliti di laboratorium.

"Kalau hasil pastinya belum selesai ya. Karena sampelnya ini kan harus dibiakkan dulu untuk menemukan apakah positif kuman atau bakteri. Butuh dilakukan yang namanya pemeriksaan kultur bakteri di sampel-sampel yang dicurigai," katanya.

Ia memperkirakan hasil laboratorium untuk sampel-sampel menu MBG yang dicurigai menyebabkan keracunan itu kurang lebih keluar antara 7-14 hari.

Sampel menu MBG yang diambil untuk diteliti, kata dia, di antaranya rendang, daun singkong, dan telur puyuh.

Menurut dia, penentuan sampel untuk diteliti juga tidak sembarangan, melainkan telah melalui serangkaian asesmen maupun anamnesis terhadap siswa SMKN 6 Semarang.

"Dari sekian ratus yang ada tanda dan gejala, kita lakukan asesmen atau anamnesa. Tanya satu-satu kira-kira pada saat makan yang kira-kira bermasalah apanya," katanya.

Dari hasil anamnesis itu, kata dia, sekitar 49 persennya menjawab di menu rendang, 40 persen menjawab di telur puyuh, dan sisanya di daun singkong.

Dugaan untuk kasus keracunan, kata dia, biasanya karena paparan bakteri Staphylococcus, Escherichia coli, dan Salmonela, tetapi untuk kepastiannya menunggu hasil laboratorium.

Ia mengatakan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut tidak hanya menangani SMKN 6 Semarang, tetapi juga sekolah lain.

"Ada PAUD, ada 3B (MBG untuk ibu hamil dan balita), ada SD. Ya, mereka Alhamdulillah, enggak (keracunan, red.)," katanya.

Dari SPPG, kata dia, memang mengakui bahwa makanan yang dikirimkan untuk SMKN 6 Semarang dimasak sejak pukul 21.00 WIB, atau terlalu dini.

Selain itu, Hakam menjelaskan bahwa SPPG itu hanya menaati tiga standar operasional prosedur (SOP) dari sekitar total 19 SOP yang dipersyaratkan.

"Yang terpenuhi SOP untuk distribusi, kemudian SOP saat diberikan pada siswa. Yang ketiga adalah SOP berkaitan dengan bahan baku," katanya.

Sebelumnya, sebanyak 707 orang, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru mengalami gejala diduga keracunan usai menyantap menu MBG, Jumat (31/7).

Dari jumlah tersebut, 698 orang mendapatkan penanganan langsung di lokasi, sedangkan sembilan orang dirujuk ke sejumlah RS dan puskesmas.