AKURAT.CO Pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf yang menyebut Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, sebagai salah satu pesantren yang masih menghadirkan "makna hakiki pesantren" memunculkan respons dari kalangan pesantren menjelang Muktamar ke-35 NU.

Pengasuh Pondok Pesantren Nadwatul Ummah Buntet, KH Faris Fuad Hasyim atau Gus Faris, menilai persoalan yang lebih mendasar bukan pada pujian terhadap Buntet Pesantren, melainkan pada pola kepemimpinan PBNU yang dinilainya terlalu bertumpu pada pendekatan struktural sehingga ruang partisipasi kiai daerah semakin menyempit.

Sebelumnya, saat menghadiri Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren di Cirebon, Sabtu (1/8/2026), Gus Yahya menyatakan bahwa Buntet merupakan salah satu pesantren yang masih mempertahankan hakikat pesantren sebagaimana diwariskan para pendahulu.

Baca Juga: Survei Insantara: Kiai Imam Jazuli Pimpin Elektabilitas Caketum PBNU, Gus Yahya di Posisi Ketujuh

"Pondok Buntet Pesantren ini adalah salah satu pesantren yang masih menghadirkan makna hakiki pesantren dan kiai di tengah masyarakat," ujar Gus Yahya.

Ia menjelaskan bahwa dari lebih 42 ribu pesantren di Indonesia, termasuk sekitar 28 ribu yang berafiliasi dengan NU, tidak seluruhnya dapat dipotret kualitas dan realitasnya secara utuh. Namun menurutnya, Buntet masih mempertahankan fungsi dasar pesantren sebagai pusat pendidikan, pembinaan spiritual, dan pengayoman umat.

Gus Yahya juga mengingatkan bahwa Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari meletakkan tiga tugas utama ulama, yakni mengembangkan ilmu, mendidik ruhani umat, dan melindungi masyarakat. Menurutnya, ketiga fungsi tersebut menjadi dasar lahirnya Nahdlatul Ulama.

Di sisi lain, Gus Faris menilai NU sebagai organisasi yang lahir dari kultur pesantren tidak dapat hanya mengandalkan mekanisme struktural dalam menjalankan organisasi.

Menurutnya, menjelang Muktamar ke-35 NU, keseimbangan antara struktur organisasi dan kewibawaan kultural para ulama menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian.

"Di NU, struktur organisasi tidak selalu menjadi penentu lahirnya sebuah keputusan. Kiai-kiai yang berada di luar struktur tetapi memiliki kedalaman ilmu dan kewibawaan spiritual sering kali menjadi rujukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan organisasi," kata Gus Faris.

Ia mencontohkan keberadaan Ulama Khos pada masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ketika banyak ulama yang tidak berada dalam struktur formal tetap memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah organisasi.

Menurut Gus Faris, sejarah NU menunjukkan bahwa kewibawaan seorang kiai tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan struktural, melainkan juga oleh kedalaman ilmu, keteladanan, dan pengaruh moral di tengah warga Nahdliyin.

Ia juga mengenang pengalaman ayahnya, almarhum KH Fuad Hasyim, yang pernah menjabat Rais Syuriah PBNU. Meski secara struktural memiliki posisi lebih tinggi dibanding KH Abdullah Abbas, ayahnya tetap menjadikan KH Abdullah Abbas sebagai salah satu rujukan karena kapasitas keilmuan dan kedudukannya sebagai bagian dari Ulama Khos.