DKP Bantul mitigasi dampak kemarau panjang di sektor perikanan

Senin, 12 Oktober 2026 18:48 WIB

Image Print

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul Istriyani saat ditemui di kompleks Kantor Bupati Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (7/10/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan mitigasi terhadap potensi gagal panen dan kendala yang dihadapi pembudi daya ikan selama musim kemarau panjang.

Kepala DKP Kabupaten Bantul Istriyani, di Bantul, Senin, mengatakan, musim kemarau panjang berpotensi meningkatkan risiko penyakit pada ikan akibat fluktuasi suhu yang dapat menyebabkan ikan mengalami stres.

"Ada beberapa laporan, tapi kemudian kita sudah melakukan pengawasan karena kita punya tenaga dokter hewan, petugas pemantau kesehatan ikan, sudah terjun, langsung terjun," katanya.ya.

Dia mengatakan, kondisi kemarau panjang juga menyulitkan pembudidaya dalam melakukan pembenihan karena suhu yang tinggi dapat memengaruhi daya hidup benih ikan.

"Dalam kondisi kemarau seperti ini memang untuk pembenihan ikan agak sulit, daya lulus hidupnya itu memang sedikit kecil," ujarnya.

Menurut dia, kendala pembenihan tersebut memengaruhi siklus budi daya di sejumlah kolam. Ketika masa panen selesai dan kolam harus segera diisi dengan benih baru, pengisian beberapa kolam terpaksa tertunda akibat keterbatasan benih.

"Itu terjadi di beberapa kelompok, terutama lele, karena memang pembenihan lele kalau musim kemarau memang agak banyak tantangan," katanya.

Untuk memitigasi dampak kemarau panjang terhadap sektor budi daya ikan, DKP Bantul telah menerbitkan surat imbauan yang memuat sejumlah langkah yang direkomendasikan bagi para pembudidaya.

"Misalnya mengurangi kepadatan kolam, tebar benihnya tidak boleh terlalu banyak," ujarnya.

Selain itu, pembudi daya diminta memperhatikan ketersediaan air di lingkungan sekitar sebelum memutuskan untuk menggunakan seluruh kolam yang dimiliki.

"Kalau memang sumber airnya berkurang, ya jangan kolamnya diisi semua. Item-item teknisnya sudah kita sosialisasikan," katanya.

Istriyani juga mengimbau para pembudidaya meningkatkan pemantauan terhadap kondisi dan perkembangan benih ikan agar dapat segera mengambil tindakan apabila ditemukan kendala.

"Kadang-kadang pagi sehat, nanti siang mungkin (kendala). Jadi memang kontrol di tiap kolam itu harus lebih rutin, lebih intens," ujarnya.

Dia menjelaskan kolam berukuran tiga meter, dengan kondisi sirkulasi air tidak mengalir, umumnya dapat ditebari hingga 1.000 benih ikan lele.

"Kalau mengalirnya mungkin sedang, bisa di angka 3.000 ekor. Kalau mengalirnya deras, bisa di angka 5.000 ekor," katan

Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026