Dokter jelaskan cara AI beri rekomendasi pada proses bayi tabung
Dokter jelaskan cara AI beri rekomendasi pada proses bayi tabung
Kamis, 27 Agustus 2026 17:11 WIB
Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM dalam temu media di Jakarta, Kamis (27/8/2026). ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti
Jakarta (ANTARA) - Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM menjelaskan cara Artificial Intelligence (AI) memberikan rekomendasi pada dokter untuk mengambil keputusan selama proses bayi tabung.
"Sekarang kita bisa pilih sperma dengan teknologi, embrionya pun dibesarkan dan dipilih dengan teknologi, dengan artificial intelligence," kata Budi dalam temu media di Jakarta, Kamis.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan AI dapat bergerak cepat mengurut data dalam jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat.
Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) itu mencontohkan pada saat mengurutkan embrio yang akan ditanamkan pada rahim calon ibu.
Kecerdasan buatan itu akan melakukan seleksi genetik terbaik dari seluruh embrio yang ada baik dari ritme pembelahan sel, memiliki kromosom yang normal dan berkualitas. Setiap ritme pembelahan sel akan diukur secara mikroskopis untuk memprediksi potensi implantasi tertinggi secara objektif.
"Kalau dengan mata biasa, kita hanya bisa menjepret (melihat) saja, kita tidak tahu apa yang terjadi dengan embrio ini. Tapi dengan bantuan AI kita dapat mengetahui secara kuat track record dari embrio," katanya.
Selain kecerdasan buatan, Budi menyebut penggunaan teknologi untuk bayi tabung semakin masif dengan adanya Pre-Implantation Genetic Testing (PGT) yang merupakan sebuah teknologi untuk menyeleksi dan memastikan embrio memiliki kromosom normal, sebelum ditanam ke dalam rahim. PGT berfungsi untuk menyingkirkan embrio dengan kelainan bawaan berat.
Terdapat pula inkubator cerdas untuk mengamati pembelahan embrio setiap saat, dengan menggunakan sejenis time-lapse sehingga pemantauan ritme perkembangan embrio bisa dilakukan secara berkelanjutan tanpa perlu mengeluarkannya, menjaga suhu dan lingkungan di sekitar embrio tetap stabil.
Meski demikian, dokter yang praktik di RS Pondok Indah itu menekankan bahwa AI hanya berperan sebagai pemberi rekomendasi saja. Berbagai tindakan dan keputusan akhir kepada pasien tetap diputuskan oleh dokter yang memberikan penanganan.
"Kita tidak mungkin bilang kepada pasien bahwa AI yang memutuskan. Pembuat keputusan tetap adalah dokter," kata dia.
Dia menekankan bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan posisi dokter, namun dokter yang tidak mempelajari AI atau mengikuti perkembangan teknologi akan tertinggal dalam memberikan pelayanan pada masyarakat.
Pewarta : Hreeloita Dharma Shanti
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026