CNN Indonesia

Kamis, 20 Agu 2026 18:00 WIB

ilustrasi rontgen paru
Ilustrasi. Penyakit yang saat ini intai warga gara-gara polusi. (iStockphoto/Udom Pinyo)

Jakarta, CNN Indonesia --

Polusi udara yang menyelimuti wilayah Jakarta membawa ancaman bagi kesehatan masyarakat. Sejumlah penyakit, mulai dari pneumonia hingga penyakit jantung iskemik, berisiko meningkat seiring memburuknya kualitas udara.

Hal tersebut diungkapkan Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia Budi Haryanto dalam media briefing bertajuk "Diseminasi Hasil Penelitian Kualitas Udara Jabodetabek".

Acara tersebut diselenggarakan Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (20/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Merujuk data BPJS Kesehatan, sejumlah penyakit yang berkaitan dengan polusi udara di Jakarta menunjukkan tren peningkatan selama periode 2021 hingga 2023. Penyakit tersebut meliputi pneumonia, penyakit jantung iskemik, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Pada 2021, tercatat 16.209 kasus pneumonia, 29.225 kasus penyakit jantung iskemik, 14.954 kasus ISPA, dan 13.229 kasus PPOK. Jumlah tersebut meningkat pada 2022. Kasus pneumonia mencapai 33.038, penyakit jantung iskemik 35.910 kasus, ISPA 36.669 kasus, dan PPOK 24.308 kasus.

Tren peningkatan berlanjut pada 2023. Data BPJS Kesehatan mencatat kasus pneumonia mencapai 48.084, penyakit jantung iskemik 40.068 kasus, ISPA 56.571 kasus, dan PPOK 32.474 kasus.

"Jantung iskemik ini umum terjadi sekarang. Banyak ini kasusnya," ujar Budi dalam media briefing di Jakarta Selatan, Kamis (20/8).

Pilihan Redaksi

  • Karhutla Bromo Meluas, Lakukan 6 Cara Agar Terhindar ISPA karena Asap
  • Kebakaran di Sekitar Kita, Ini Cara Melindungi Diri dari Paparan Asap
  • Gejala ISPA Akibat Kabut Asap yang Perlu Diwaspadai

Budi menjelaskan, setiap peningkatan konsentrasi polutan PM2,5 sebesar 15 mikrogram per meter kubik udara dapat meningkatkan risiko sejumlah penyakit. Peningkatan konsentrasi polutan pada level tersebut diperkirakan dapat memicu kenaikan kasus pneumonia sebesar 20 persen, penyakit jantung iskemik 37 persen, PPOK 27 persen, dan ISPA 18 persen.

Meningkatnya kasus penyakit yang berkaitan dengan polusi udara juga berdampak pada beban pembiayaan kesehatan. Secara keseluruhan, total nilai klaim BPJS Kesehatan untuk 12 kelompok penyakit terkait polusi udara di Jakarta terus meningkat setiap tahun.

Beban klaim tercatat sebesar Rp588 miliar pada 2021. Angka tersebut kemudian naik menjadi Rp867 miliar pada 2022 dan mencapai Rp1,19 triliun pada 2023.

Upaya Pemprov DKI

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih mengupayakan berbagai langkah untuk mengatasi kualitas udara yang kurang baik di Ibu Kota.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengerahkan petugas pemadam kebakaran (damkar) untuk menyemprotkan air.

"Seperti yang beberapa hari yang lalu dilakukan oleh damkar dan sebagainya, mereka menggunakan alat-alatnya untuk menebar air untuk mengurangi ini," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota Jakarta, Rabu (19/8), dikutip dari detikcom.

Selain itu, Pramono mengatakan telah beberapa kali meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi polusi udara. Namun, upaya tersebut bergantung pada kondisi alam, terutama ketersediaan awan yang memungkinkan hujan turun.

"Berkali-kali saya sudah memerintahkan kepada BPBD untuk segera melakukan modifikasi cuaca tapi karena nggak ada awan, nggak bisa turun (hujan)," jelasnya.

Pramono menegaskan pemerintah tetap berupaya melakukan intervensi untuk memperbaiki kondisi udara di Jakarta.

(dhz/tis)

placeholder