AKURAT.CO Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, mendorong terbentuknya poros kepemimpinan yang mengusung Prof. Dr. Nasaruddin Umar sebagai calon Ketua Umum PBNU dan Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam PBNU dalam Muktamar ke-35 NU.

Gus Lilur meminta peserta Muktamar ke-35 NU menjadikan forum tersebut sebagai momentum memperkuat kembali khittah organisasi dan tidak menjadikannya sebagai arena perebutan kekuasaan pragmatis.

Menurut dia, keputusan muktamar akan menentukan arah struktural NU dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, pemilihan kepemimpinan harus mempertimbangkan kapasitas keulamaan dan kepentingan kebangsaan.

Baca Juga: Kiai Musta’in Usulkan AHWA Jadi Lembaga Permanen di NU

Gus Lilur menilai pengalaman Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021 perlu menjadi pembelajaran. Menurutnya, dinamika faksional dalam proses pemilihan saat itu telah memberikan dampak terhadap kondisi internal organisasi.

“Muktamar ke-34 Lampung harus jadi pelajaran pahit yang tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin, dampaknya sangat fatal bagi NU,” ujar Gus Lilur, dikutip Jumat (19/6/2026).

Ia mengatakan NU memiliki posisi strategis dalam kehidupan kebangsaan karena memiliki basis warga yang besar. Oleh sebab itu, setiap keputusan organisasi dinilai perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap persatuan dan stabilitas nasional.

Gus Lilur juga mengaitkan kepemimpinan NU dengan semangat para pendiri bangsa yang mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok. Ia mencontohkan kesediaan tokoh-tokoh Islam pada 1945 untuk menerima perubahan rumusan Piagam Jakarta demi menjaga keutuhan Indonesia.

Dalam konteks Muktamar ke-35, Gus Lilur kemudian mendorong NU agar mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Atas pertimbangan tersebut, ia mengusulkan Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, sebagai calon Ketua Umum PBNU. Sementara itu, mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj didorong menempati posisi Rais Aam.

Gus Lilur menilai kedua tokoh tersebut memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman yang dapat memperkuat posisi NU di tingkat nasional maupun internasional.

“Keduanya profesor asli, ulama tulen, cendekia sejati yang bisa mengharumkan NU di panggung global,” ujarnya.

Baca Juga: Kiai Sepuh Tebuireng Sebut Politik Uang Jelang Muktamar NU Sudah Jadi Realitas

Ia juga mengkritik munculnya figur yang dinilainya mengandalkan simbol kesantrian tanpa diimbangi kapasitas keilmuan yang memadai untuk membangun karier politik.

Gus Lilur berharap peserta Muktamar ke-35 NU dapat memilih pemimpin berdasarkan kapasitas keulamaan, kompetensi, dan rekam jejak, bukan semata-mata berdasarkan kepentingan politik kelompok.

Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.