Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, meskipun harga minyak dunia kembali bergerak naik ke kisaran USD80 per barel akibat meningkatnya tensi geopolitik, level tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

"Menurut saya, ruang untuk menurunkan harga BBM non-subsidi jelas ada ya, karena penurunannya sudah sangat tajam dan walaupun sekarang sudah mulai bergejolak lagi dan harga minyak naik lagi ke level USD80an per barrel," kata Faisal kepad Akurat.co, Senin (20/7/2026).

Baca Juga: ICP Sentuh USD117 per Barel, Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik

Faisal menyampaikan, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax pada prinsipnya bersifat mengikuti pergerakan harga pasar (floating).

Oleh karena itu, ketika harga minyak mentah turun, penyesuaian harga seharusnya juga dilakukan.

Faisal menilai penurunan harga tidak harus dilakukan secara drastis, melainkan bertahap agar lebih mudah diserap pasar sekaligus mengantisipasi perubahan kondisi global.

"Jadi menurut saya ruang untuk penurunan tetap ada, walaupun tidak harus drastis ya," ujarnya.

Faisal juga mengingatkan agar mekanisme penyesuaian harga BBM dilakukan secara lebih bertahap, baik saat kenaikan maupun penurunan harga.

Menurutnya, kenaikan harga yang terlalu tajam sebelumnya memicu peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi sehingga menyebabkan antrean panjang di sejumlah SPBU.

"Nah itu yang perlu menjadi pelajaran ke depan. Jadi intinya pada dasarnya menurut saya BBM non-subsidi sebaiknya diturunkan secara bertahap ya, dan juga menyesuaikan dengan kondisi internasional," ucap Faisal.

Baca Juga: Imbas Konflik Timur Tengah, ICP April 2026 Tembus USD117,31 per Barel

Di sisi lain, praktisi migas Hadi Ismoyo juga menilai terdapat ruang untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi.

Berdasarkan perhitungannya, dengan asumsi rata-rata ICP Juni sebesar USD83 per barel, nilai tukar Rp18.000 per dolar AS, serta yield rata-rata 0,7, harga keekonomian BBM nonsubsidi berada di kisaran Rp13.500 per liter.

Dia berpendapat penyesuaian harga BBM non-subsidi sebaiknya dilakukan secara berkala setiap bulan dengan mengacu pada rata-rata ICP bulanan yang ditetapkan pemerintah.

"Seharusnya secara fair harusnya demikian, khusus untuk Non-Subsidi. Dan ditinjau setiap bulan sesuai dengan angka bulanan ICP yangvdi keluarkan Pemerintah,” tutur Hadi.

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah menetapkan rata-rata Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Juni 2026 sebesar USD83,45 per barel, turun dibandingkan ICP Mei 2026 yang berada pada level USD106,56 per barel.

Penetapan ICP Juni tercantum dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 282.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Juni 2026.