Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Tbk(PGEO) Ahmad Yani mengatakan Indonesia memiliki sumber panas bumi yang sangat besar, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Dari total cadangan panas bumi 24 gigawatt yang dimiliki oleh Indonesia, yang termanfaatkan baru 11%.

"Inilah yang menjadi PR kita. Maka dalam IIGCE ini, diskusi bersama investor, pemangku kepentingan, IPP, dan pemerintah sama-sama mencari jalan keluar. Bagaimana energi yang besar ini bisa berkembang di Indonesia," ujar Ahmad Yani kepada CNBC Indonesia, Kamis (20/8/2026).

Salah satu upaya yang dilakukan, menurutnya, adalah menciptakan iklim bisnis panas bumi yang feasible dan bankable. Untuk itu, dibutuhkan perhitungan bersama untuk mendukung upaya ini.

Adapun dalam RUPTL 2025-2034 kapasitas panas bumi mencapai 5,2 gigawatt. Dia menilai target tersebut sangat realistis dan juga menjadi target utama PGE. Ahmad Yani menegaskan, PGE memiliki pipeline yang jelas untuk mencapai target tersebut dan mendukung green RUPTL. Langkah tersebut menurutnya juga menjadi salah satu dukungan pemerintah untuk pengembangan panas bumi.

"Kita di PGE sudah punya target yang jelas nih terkait dengan opportunity ini," pungkas Ahmad Yani.

PGE menurutnya juga akan mencapai 1 gigawatt pada 2028 dan menjadi perusahaan panas bumo nomor satu di tanah air.

"Kemudian di tahun 2034 menjadi nomor satu di dunia untuk kapasitas 1,8 gigawatt. Kita sudah punya pipeline yang jelas jadi tidak ada isu terkait dengan resource," tegasnya.

Sebagai informasi, PGE berhasil menjalankan Commercial Operation Date (COD) PLTP Lumut Balai Unit 2 pada Juni 2025. Sementara itu, PLTP Lumut Balai Unit 3 sedang dalam pengembangan dengan tajak perdana di bulan Juli, dan PLTP Lumut Balai Unit 4 telah memulai eksekusi proyek pengembangan. Selain itu, proyek Gunung Tiga (Ulubelu Extension) sedang dalam proses pengeboran dan uji sumur untuk dikembangkan lebih lanjut.

"Ini salah satu upaya kita bagaimana mengembangkan potensi yang ada, dengan strategi investasi terukur. Tentu saja faktor commerciality menjadi utama, yang menjadi perhatian utama kita," kata Ahmad Yani.

Proyek-proyek panas bumi garapan PGE pun memberikan nilai tambah pada masyarakat sekitar proyek, dan membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi daerah. Misalnya saja di Kamojang, yang menjadi bukti selama lebih dari 4 dekade bertumbuh bersama masyarakat.

"Di Kamojang itu membuktikan lebih dari 4 dekade PGE bersama masyarakat tumbuh bersama dalam membangun ekonomi di sana. Tumbuh bersama terkait dengan knowledge-nya, community development, untuk penguatan ekonomi masyarakat, itu terbukti," jelasnya.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]