Indonesia masih negosiasi harga listrik untuk ASEAN Power Grid

Selasa, 22 September 2026 13:27 WIB

Image Print

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika ditemui di sela-sela acara Electricity Connect 2026 yang digelar di Tangerang, Banten, Selasa (22/9/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

Tangerang, Banten (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan Indonesia belum menandatangani ASEAN Power Grid (APG) atau sistem jaringan terintegrasi di antara negara-negara anggota ASEAN, sebab masih melakukan negosiasi harga listrik.

“Harganya belum win-win,” ujar Bahlil ketika ditemui di sela-sela acara Electricity Connect 2026 yang digelar di Tangerang, Banten, Selasa.

Bahlil mengungkapkan sempat menjalin komunikasi dengan Malaysia ihwal komitmen ASEAN Power Grid yang merupakan hasil dari KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina.

Ia mengakui bahwa belum menandatangani komitmen tersebut, sebab berdasarkan hitungan Bahlil, Indonesia belum mendapatkan keuntungan yang setimpal.

“Win-win itu untung bagi kamu, untung juga bagi kami. Untungnya harus adil, bukan kamu untung 70, kami untung 30. Itu bukan win-win, abuleke namanya,” ujar Bahlil.

Ia mengatakan akan memberi tanda tangan setelah menghasilkan kesepakatan yang setimpal.

Meskipun demikian, Bahlil menegaskan tidak ada negara yang bisa besar tanpa kolaborasi, salah satunya melalui kolaborasi kawasan sebagaimana ASEAN.

“Tidak ada negara yang hebat karena single fighter, bukan lagi zamannya. Kolaborasi itu adalah juga saling membutuhkan, saling menerima, dan saling memberi,” ucap Bahlil.

Untuk itu, ia tetap menjunjung kolaborasi dengan syarat saling menguntungkan satu sama lain dengan adil.

Diwartakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengajak negara-negara ASEAN untuk mempercepat pembuatan jaringan energi mengingat ketahanan energi menjadi tantangan utama yang mendesak untuk dihadapi bersama sebagai dampak tekanan global serta ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah.

Kepala Negara menyampaikan bahwa kawasan Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan yakni mulai dari tenaga air, tenaga surya, tenaga angin, hingga lahan subur yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya para pemimpin ASEAN dalam percepatan mekanisme berbagi energi dan interkoneksi listrik regional di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.

Pewarta : Putu Indah Savitri
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026