Bagikan:

JAKARTA – Banyak orang mengenal fesyen hanya dari tampilan akhirnya, seperti potongan busana, gaya berpakaian, atau tren yang berseliweran di media sosial.

Padahal, di balik selembar kain atau sepasang sepatu yang dipakai sehari-hari, ada rangkaian proses panjang yang melibatkan industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen. Mulai dari pengolahan bahan baku, desain, produksi, hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen.

Memahami rantai proses ini penting, bukan sekadar untuk pelaku industri, tetapi juga bagi masyarakat luas yang ingin melek terhadap bagaimana produk fesyen yang mereka pakai benar-benar dibuat. Edukasi semacam ini juga membantu publik menghargai nilai tambah di setiap tahap produksi, sekaligus memahami posisi Indonesia dalam peta industri fesyen dunia.

Di Indonesia, sektor kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen selama ini dikenal sebagai salah satu tulang punggung manufaktur nasional. Sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja, menyumbang devisa dari ekspor, dan menjadi rumah bagi ribuan pelaku usaha kecil hingga menengah yang tersebar di berbagai daerah.

Di tengah ketatnya persaingan rantai pasok global, kemampuan industri ini untuk terus berinovasi dan menjalin jejaring bisnis internasional menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar menjadi lokasi produksi, tetapi juga pemain yang diperhitungkan di pasar dunia.

Semangat itulah yang mengemuka dalam pembukaan Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2026 dan Indo Garment & Textile (IGT) Expo 2026 yang resmi digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Memasuki penyelenggaraan ke-19, pameran internasional yang diselenggarakan oleh Krista Exhibitions Group ini kembali menjadi panggung bagi inovasi industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat manufaktur fesyen di Asia.

BACA JUGA:


Acara dibuka secara resmi oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan sektor manufaktur nasional.

Sebanyak 210 peserta ambil bagian dalam pameran tahun ini, termasuk 50 UMKM lokal dan pelaku industri dari 14 negara, menghadirkan beragam inovasi mulai dari produk kulit, alas kaki, tekstil, garmen, bahan baku, dan aksesori, hingga teknologi otomasi dan solusi manufaktur terkini.

CEO Krista Exhibitions Group, Daud D. Salim, menegaskan bahwa ILF dan IGT Expo dirancang bukan hanya sebagai ajang pamer produk, melainkan wadah kolaborasi yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan industri. Mulai dari produsen, pemasok bahan baku, penyedia teknologi, hingga calon investor dan buyer internasional.

"ILF Expo dan IGT Expo hadir sebagai platform strategis yang mempertemukan pelaku industri kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen untuk menampilkan inovasi, memperluas jejaring bisnis, serta memperkuat daya saing industri manufaktur Indonesia di pasar global," ucap Daud di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

"Kami berharap pameran ini mampu mendorong investasi, mempercepat adopsi teknologi, serta membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi produk Indonesia," tambahnya.

Selain menjadi etalase teknologi dan inovasi, pameran tahun ini juga diramaikan sejumlah agenda pendukung. Ada Seminar Nasional AGTI bertajuk "Membangun Industri TPT yang Kompetitif, Berkelanjutan, dan Menjadi Pemain Utama dalam Rantai Pasok Nasional dan Internasional", serta ILF–IGT Manufacturing Forum 2026 yang mengusung tema "Jaya di Pasar Domestik, Unggul di Pasar Global".

Forum ini membahas sejumlah agenda strategis: revitalisasi industri padat karya, penguatan investasi, pemberdayaan UMKM dan IKM, hingga cara memanfaatkan peluang perdagangan melalui Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Anton J. Supit melihat peluang ekspor industri alas kaki nasional masih sangat besar. Menurutnya, minat berbagai merek internasional untuk memperluas produksi di Indonesia perlu diimbangi dengan penyelesaian sejumlah tantangan di dalam negeri, agar momentum pertumbuhan ini benar-benar bisa dimanfaatkan secara optimal.

"Peluang industri alas kaki Indonesia masih sangat besar. Banyak brand global yang ingin mengalokasikan produksinya ke Indonesia. Yang perlu kita lakukan adalah menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah di dalam negeri agar peluang tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal," kata Anton.

Ia menjelaskan, kontribusi ekspor Indonesia terhadap perdagangan alas kaki dunia sejatinya masih relatif kecil, sebuah kabar baik jika dilihat dari sisi ruang pertumbuhan yang masih terbuka lebar.

"Ekspor alas kaki Indonesia memang terus meningkat setiap tahun dan tidak pernah mengalami penurunan. Namun jika dibandingkan dengan total ekspor dunia, porsinya masih sekitar dua hingga tiga persen. Artinya, potensi untuk tumbuh masih sangat besar, terutama dengan adanya peluang perluasan akses pasar internasional," ujarnya.

Anton juga menyoroti pentingnya investasi dari merek-merek global yang selama ini telah memberikan kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja nasional.

"Mayoritas ekspor alas kaki Indonesia berasal dari produksi berbagai brand internasional. Kehadiran mereka telah menciptakan investasi besar dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat signifikan. Karena itu iklim investasi harus terus dijaga agar semakin banyak peluang yang masuk ke Indonesia," tambahnya.

Di sisi lain, APRISINDO turut mendorong penguatan Industri Kecil dan Menengah (IKM) agar tidak berhenti sebagai pelaku usaha berskala kecil, melainkan tumbuh menjadi pelaku industri yang punya daya saing di kancah global.

"Ke depan kami ingin lebih fokus pada pengembangan IKM agar tumbuh menjadi industrialis yang kuat. Melalui inovasi, peningkatan kemampuan produksi, dan penguatan rantai pasok, mereka diharapkan mampu menjadi bagian penting dari ekosistem industri alas kaki nasional." tutur Anton.

Nuansa fesyen turut menjadi daya tarik utama penyelenggaraan tahun ini melalui The Fashion Show, yang menampilkan koleksi terbaru berbahan kulit, tekstil, dan berbagai inovasi fesyen karya anak bangsa.

Sementara itu, Networking Cocktail Dinner mempertemukan peserta pameran dengan buyer, investor, asosiasi, dan mitra industri dari dalam maupun luar negeri melalui program business matching, yaitu ruang yang diharapkan dapat melahirkan kolaborasi dan transaksi bisnis baru.

Dengan semakin luasnya partisipasi internasional serta dukungan pemerintah dan asosiasi industri, ILF Expo dan IGT Expo 2026 diharapkan menjadi katalis pertumbuhan sektor kulit, alas kaki, tekstil, dan garmen Indonesia. Sinergi antara inovasi, investasi, dan penguatan rantai pasok diyakini akan mempercepat langkah industri fesyen nasional untuk semakin kompetitif di pasar global.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+