Washington (ANTARA) - Pembicaraan putaran selanjutnya antara Israel dan Lebanon, yang dimediasi Amerika Serikat, akan digelar di Roma pekan depan, di mana para negosiator berupaya memanfaatkan kemajuan terbaru dalam rangka implementasi perjanjian kerangka kerja keamanan.

"Kami memasuki pembicaraan ini dengan momentum signifikan setelah peluncuran zona percontohan pertama di Lebanon selatan dan pertemuan produktif antara Presiden Lebanon Joseph Aoun dengan Presiden AS Donald Trump pekan lalu," kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS seperti dikutip media lokal AS pada Senin (27/7).

Menurut pejabat tersebut, pertemuan kelompok kerja teknis akan digelar di Roma pada 4-6 Agustus mendatang dan akan berfokus pada upaya mempercepat implementasi penuh perjanjian kerangka kerja yang ditandatangani bulan lalu.

Baca juga: Iran dukung penuh Hizbullah, desak Israel hentikan serangan ke Lebanon

Agenda pertemuan itu mencakup perluasan inisiatif zona percontohan, penyelesaian sengketa perbatasan yang masih belum terselesaikan, serta upaya mewujudkan perjanjian perdamaian dan keamanan yang komprehensif antara Israel dan Lebanon.

"Zona percontohan pertama ini merupakan peluang konkret untuk mewujudkan kemajuan nyata di lapangan, memulihkan kewenangan negara Lebanon melalui pelucutan senjata organisasi-organisasi teroris yang dapat diverifikasi, serta membangun kepercayaan yang diperlukan untuk langkah-langkah selanjutnya," kata pejabat tersebut.

Dia menambahkan pelajaran yang dipetik dari zona percontohan awal akan membantu menyempurnakan proses implementasi sebelum diperluas secara bertahap.

"Kerangka kerja trilateral adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian berkelanjutan. Pelaksanaan penuh kesepakatan ini jelas menjadi kepentingan kedua negara dan pemerintahan Trump berkomitmen untuk memastikan keberhasilannya," ujarnya.

Baca juga: Lebanon nilai keberlanjutan UNIFIL menjadi opsi terbaik

Pada 26 Juni lalu, Lebanon dan Israel menandatangani kesepakatan kerangka kerja yang mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari seluruh wilayah Lebanon yang didudukinya.

Namun, kesepakatan itu tidak menetapkan jadwal penarikan pasukan. Penyelesaiannya dikaitkan dengan pengambilalihan tanggung jawab keamanan oleh tentara Lebanon di wilayah yang ditinggalkan Israel serta perlucutan senjata kelompok bersenjata, termasuk Hizbullah.

Menurut data resmi Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan 4.328 orang dan melukai 12.232 lainnya.

Hingga kini, Israel masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan, baik yang telah dikuasai selama puluhan tahun maupun yang direbut dalam perang pada Oktober 2023 hingga November 2024.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Presiden Lebanon akan temui Trump bahas keamanan dan ekonomi

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.