Bagikan:

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih dapat mengeluarkan perintah untuk melakukan serangan terhadap Iran, dengan situasi di kawasan yang tetap bergejolak di tengah jeda dalam operasi militer pengeboman.

RIA Novosti pada Senin, 27 Juli, dengan mengutip The Wall Street Journal dengan mengutip pejabat AS, melaporkan Trump menunda rencana untuk meningkatkan secara tajam operasi militer terhadap Iran karena kekhawatiran eskalasi dapat menguras persediaan rudal pertahanan udara yang sudah menipis secara berbahaya.

Pejabat pemerintahan Trump mengatakan negara-negara Teluk, termasuk Oman dan Qatar, sedang berupaya menghidupkan kembali proses diplomatik, demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada Minggu, 26 Juli.

Sementara itu, Axios melaporkan pada Sabtu pekan lalu, militer AS masih menyiapkan rencana kontingensi untuk kembali melakukan aksi militer berskala besar terhadap Iran, meskipun Presiden Donald Trump belum mengeluarkan perintah tersebut.

Menurut laporan itu, Trump memerintahkan penghentian serangan lebih lanjut pada Jumat, sekaligus mengakhiri rangkaian serangan berturut-turut selama 13 hari.

Adapun pada malam menjelang 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari. Namun, sejak 8 Juli, pasukan AS telah melancarkan beberapa rangkaian serangan terhadap Iran.

BACA JUGA:


Komando Pusat AS (US Central Command) menyatakan serangan tersebut merupakan respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Pasukan Iran merespons dengan melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.

Sedangkan pada 12 Juli, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga AS menghentikan campur tangannya di kawasan tersebut, setelah kembali terjadi gelombang saling serang antara kedua pihak dalam konflik.

Sehari kemudian, Trump mengatakan Amerika Serikat akan menjadi “penjaga” Selat Hormuz. Ia juga kembali memberlakukan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+

Populer

Kebakaran Hutan Avila Jadi yang Terbesar dalam Sejarah Spanyol

28 Juli 2026, 03:03

Konflik Saudi-Houthi Berisiko Buka Front Baru dalam Perang AS-Iran

28 Juli 2026, 02:02

Kapal yang Lintasi Selat Hormuz Gunakan Rute Iran Bukan Seruan AS

28 Juli 2026, 00:01

Serangan Drone ke Arab Saudi Bukan yang Pertama Berasal dari Irak

28 Juli 2026, 01:01

Trump Jeda Serangan AS ke Iran, Upaya Diplomatik Dihidupkan Negara Kawasan Teluk

28 Juli 2026, 04:31