Kabar rencana penggabungan usaha atau merger antara dua perusahaan menara telekomunikasi yaitu PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali mencuat. Seberapa besar infrastruktur keduanya jika jadi bergabung?

Mengutip laporan Bloomberg pada Senin (24/8), MTEL berencana memilih salah satu bank untuk membantu proses transaksi dalam beberapa pekan mendatang. Langkah ini kembali menguatkan kabar konsolidasi antara dua perusahaan yang bergerak di bisnis menara telekomunikasi itu.

Katadata.co.id telah meminta konfirmasi kepada pihak MTEL. Namun, hingga berita ini ditayangkan, perseroan belum memberikan jawaban.

Jika penggabungan benar-benar terjadi, skala perusahaan hasil merger dapat menjadi sangat besar, terutama dari sisi jumlah menara, penyewaan, hingga infrastruktur serat optik.

Berdasarkan data operasional kuartal I 2026 dalam paparan publik masing-masing perusahaan, hitungan sederhana berdasarkan data operasional kuartal I 2026 menunjukkan gabungan kedua perusahaan memiliki puluhan ribu menara dan lebih dari 100 ribu penyewaan. Berikut rinciannya:

Menara/site: 64.993

  • MTEL: 40.327 menara
  • TBIG: 24.666 site

Tenant/penyewaan: 105.097

  • MTEL: 63.333 tenant
  • TBIG: 41.764 penyewaan

Billable Fiber: 72.842 kilometer

  • Merupakan jaringan fiber MTEL.
  • TBIG juga memiliki dan mengoperasikan infrastruktur serat optik, tetapi panjang jaringannya belum dirinci.

Angka ini belum memperhitungkan kemungkinan adanya aset yang berada pada lokasi yang sama atau potensi duplikasi akibat kedua perusahaan melayani operator yang sama. 

Potensi Menara

MTEL saat ini menyebut dirinya sebagai TowerCo independen terbesar di Asia Tenggara dan Indonesia dengan 40.327 menara. Sebanyak 59% atau 23.768 menara MTEL berada di luar Jawa yang berarti aset perusahaan tersebar cukup luas di luar pusat ekonomi nasional.

Portofolio MTEL tersebut mencakup:

  • 16.559 menara di Jawa
  • 3.887 di Sumatera
  • 3.742 di Sulawesi
  • 3.742 di Kalimantan
  • 2.660 di Bali dan Nusa Tenggara
  • 1.826 di Maluku dan Papua

Sementara itu, TBIG memiliki 24.666 site telekomunikasi per Maret 2026. Bisnis utamanya adalah menyewakan ruang pada menara untuk pemasangan antena dan peralatan transmisi sinyal dengan skema kontrak sewa jangka panjang.

“Perseroan juga memiliki dan mengoperasikan infrastruktur komunikasi sepertikabelseratoptik,” demikian tertulis dalam dokumen Public Expose TBIG pada 9 Juni 2026.

Dengan demikian, kekuatan gabungan tidak hanya terletak pada jumlah fisik menara, tetapi juga pada kemampuan menghasilkan pendapatan berulang dari aset tersebut.

Skala gabungan juga terlihat dari jumlah tenant. MTEL memiliki 63.333 tenant, sedangkan TBIG mencatat 41.764 penyewaan pada kuartal I 2026.

Dalam satu menara dapat ditempati lebih dari satu operator. MTEL, misalnya, mencatat tenancy ratio sebesar 1,57 kali pada kuartal I 2026, naik dari 1,52 kali pada 2025.

Penambahan penyewa pada menara yang sudah ada juga dapat meningkatkan utilisasi aset. TBIG juga menekankan karakter bisnisnya yang ditopang recurring revenue dari operator telekomunikasi melalui kontrak jangka panjang.

Selain memiliki skala menara yang besar, kekuatan bisnis jika MTEL dan TBIG bergabung juga dapat dilihat dari visibilitas pendapatan. Dalam dokumen public expose tersebut, sekitar 89% pendapatan MTEL berasal dari MNO besar di Indonesia.

Komposisi pendapatan terbesar berasal dari Telkomsel sebesar 54%, diikuti Indosat Ooredoo Hutchison 21%, dan XLSmart 14%. Sementara itu, Telkom menyumbang 8% dan pelanggan lainnya 3%.

Kekuatan dari Fiber

Jika melihat perkembangan bisnis MTEL, infrastruktur yang berpotensi menjadi pelengkap bisnis menara adalah jaringan fiber. MTEL memiliki 72.842 kilometer billable fiber pada kuartal I 2026, setelah menambah 2.224 kilometer fiber yang dapat ditagihkan sepanjang kuartal tersebut.

Fiber juga mulai menjadi mesin pertumbuhan baru bagi MTEL. Pendapatan segmen fiber optik mencapai Rp 152 miliar pada kuartal I 2026, tumbuh 8,5% secara tahunan.

“Ini didukung oleh ekspansi fiber-to-the-tower secara organik maupun anorganik seiring MNO yang terus memperkuat konektivitas jaringan,” demikian tertulis dalam dokumen Public Expose Tahunan MTEL pada 30 Juni 2026.

Sementara itu, TBIG menyatakan memiliki dan mengoperasikan infrastruktur komunikasi seperti kabel serat optik. Namun, TBIG tidak tidak mencantumkan panjang jaringan fiber tersebut,

Artinya, jika merger terjadi, perusahaan gabungan setidaknya membawa 72.842 kilometer billable fiber milik MTEL, ditambah infrastruktur serat optik TBIG yang jumlah kilometernya belum dirinci dalam bahan tersebut.

Perkembangan ini memperlihatkan bisnis tower mulai bergerak dari sekedar menyediakan tempat bagi antena operator menuju penyediaan ekosistem infrastruktur telekomunikasi yang lebih luas.

MTEL, misalnya, tengah mengembangkan konsep Next-Generation TowerCo melalui bisnis beyond tower, termasuk Power-as-a-Service (PaaS). Perusahaan juga melihat fiber sebagai bagian penting dari ekspansi jaringan operator.

Dalam target 2026, MTEL bahkan mengalokasikan rencana capex sekitar Rp 2,9 triliun, dengan target penambahan 2.500 tenant secara organik dan 9 riu kilometer billable fiber.

Dengan begitu, entitas gabungan berpotensi memiliki kombinasi menara, basis tenant yang besar, jaringan fiber, serta layanan infrastruktur pendukung.

Jika isu merger MTEL-TBIG terealisasi, kekuatan utamanya bukan hanya soal menjadi perusahaan dengan hampir 65 ribu menara, tetapi bagaimana keduanya dapat dikonsolidasikan menjadi satu jaringan infrastruktur telekomunikasi yang lebih luas dan terintegrasi.