Kabar baik! Pemkot Mataram bisa hemat biaya bensin Rp3 miliar
Langkah efisiensi BBM yang telah berjalan sejak bulan Maret 2026.
Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mencatat efisiensi belanja bahan bakar minyak (BBM) operasional dan kendaraan dinas mencapai sekitar Rp3 miliar sejak kebijakan penghematan diterapkan pada Maret 2026.
"Langkah efisiensi BBM yang telah berjalan sejak bulan Maret 2026, dari penghematan penggunaan BBM operasional dan kendaraan dinas sudah terhimpun sekitar Rp3 miliar," kata Sekretaris Daerah Kota Mataram Lalu Alwan Basri di Mataram, Sabtu.
Dia mengatakan efisiensi tersebut dilakukan dengan menghemat penggunaan BBM untuk operasional dan kendaraan dinas di lingkup Pemerintah Kota Mataram.
Kendati demikian, kebijakan penghematan tidak menyentuh sektor pelayanan publik yang bersifat krusial.
Alwan mengatakan operasional pelayanan dasar masyarakat, seperti pengangkutan sampah oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), hingga kendaraan pelayanan umum tetap berjalan normal tanpa pembatasan.
"Sebaliknya, kemungkinan operasional untuk pelayanan dasar itu akan kita subsidi lagi. Tentu jika anggaran mencukupi," papar dia.
Menurut dia, hasil efisiensi BBM tersebut nantinya dapat dialokasikan untuk menutupi kebutuhan belanja daerah yang masih kurang pada sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Di Kota Mataram terdapat 39 OPD yang memiliki sejumlah program prioritas. Setiap usulan belanja dari OPD akan dikaji kembali untuk menentukan program yang dinilai paling mendesak sesuai kemampuan anggaran daerah.
Salah satu usulan tersebut berasal dari DLH Kota Mataram yang mengajukan pengadaan mesin pembakar sampah ramah lingkungan atau insinerator dengan nilai sekitar Rp3,5 miliar.
"Tapi kami sudah minta DLH untuk kaji lagi mana yang prioritas, karena uang kita tidak seberapa," katanya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi mengatakan usulan pengadaan mesin insinerator berkapasitas 10 ton untuk memperkuat pengolahan sampah berbasis pembakaran ramah lingkungan, sekaligus mengurangi volume sampah secara drastis.
Teknologi tersebut terutama ditujukan untuk mengolah sampah residu yang sulit didaur ulang, mencegah pencemaran udara akibat pembakaran tersebuka, sekaligus mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Menurut dia, pengolahan sampah dengan insinerator dinilai cukup efektif lantaran residu dari satu kali pembakaran sebanyak lima ton hanya setengah karung.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Sugiharto Purnama
COPYRIGHT © ANTARA 2026