Pontianak (ANTARA) - Kondisi kabut asap di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), pada 18 September 2026 mulai berkurang dan hal itu membuat warga tidak perlu khawatir ketika ke luar rumah.

"Alhamdulillah hari mulai cerah, matahari telah muncul. Kabut asap menipis dan di komplek kami sudah cerah. Kalau beberapa hari sebelumnya sangat pekat," ujar warga Pontianak Ridha Rahmawati di Pontianak, Jumat.

Ia berharap kondisi saat ini semakin baik ke depannya sehingga aktivitas masyarakat di luar kembali normal tanpa masker. Menurutnya, selama ini harus menggunakan masker karena pekat.

"Kita berdoa hujan terus hadir sehingga kondisi udara sehat dan kabut asap hilang," ucapnya.

Kualitas udara Pontianak menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan kondisi ekstrem beberapa hari sebelumnya.

Berdasarkan pemantauan IQAir pada Jumat 18 September 2026 pukul 13.00 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI US) berada pada angka 235, dengan polutan utama PM2,5 mencapai 160 µg/m³ dan dikategorikan sangat tidak sehat.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pemantauan sebelumnya pada 12 September 2026, ketika AQI sempat mencapai 1.368 dengan PM2,5 sekitar 761 µg/m³. Dengan demikian AQI telah turun sekitar 82,8 persen, sedangkan konsentrasi PM2,5 berkurang sekitar 79 persen.

Meski terjadi penurunan tajam, kondisi udara Pontianak belum dapat dikatakan baik. IQAir menempatkan AQI 201–300 dalam kategori sangat tidak sehat, sementara 301 ke atas masuk kategori berbahaya.

Data IQAir juga menunjukkan bahwa PM2,5 menjadi polutan dominan di Pontianak. Partikel berukuran sangat kecil ini menjadi indikator penting dalam menilai risiko polusi udara. IQAir menyebut AQI+ menggunakan rata-rata konsentrasi per jam sehingga dapat menggambarkan perubahan kondisi udara secara lebih cepat.

Kesimpulannya, Pontianak telah keluar dari kondisi ekstrem AQI di atas 1.000, tetapi udara masih berada pada level sangat tidak sehat dan belum kembali ke kondisi aman.

Dalam minggu ini, sejumlah daerah di Kota Pontianak maupun di daerah lainnya di Kalbar diguyur hujan sehingga udara mulai membaik dan asap berkurang karena sumber api padam oleh hujan tersebut.

Berdasarkan data BMKG per 16 September 2026 pukul 00.00–16.00 WIB, terdeteksi 398 titik panas di Kalbar. Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Ketapang sebanyak 302 titik, terdiri atas 298 tingkat kepercayaan menengah dan tiga tinggi serta satu rendah.

Kayong Utara berada di urutan berikutnya dengan 66 titik, seluruhnya berkategori menengah. Kubu Raya tercatat 20 titik, Melawi enam titik, Sekadau tiga titik, dan Sintang satu titik.

Sementara itu Sambas, Mempawah, Sanggau, Kapuas Hulu, Bengkayang, Landak, Pontianak, dan Singkawang tidak terdeteksi titik panas. Data tersebut menunjukkan konsentrasi hotspot masih berada di wilayah selatan Kalbar, terutama Ketapang.

Pewarta: Dedi
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.