Karhutla melanda 67,95 hektare lahan sekitar kebun sawit di Nabire - ANTARA News Papua Tengah
Nabire (ANTARA) - Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah mencatat 23 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sekitar 67,95 hektare lahan di sekitar perkebunan kelapa sawit Kabupaten Nabire sejak 18 Juli 2026.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan Papua Tengah Andrias Gobay di Nabire, Minggu mengatakan kebakaran terjadi di sejumlah lokasi, antara lain Wami, Sima, serta beberapa blok perkebunan sawit PT Nabire Baru dan PT Sariwana Adi Perkasa.
"Dari 23 kejadian tersebut, sebagian berada di luar HGU perkebunan sawit, kawasan bernilai konservasi tinggi, sempadan sungai, maupun area perkebunan dan land clearing," katanya.
Ia menjelaskan, sejumlah karhutla berdampak langsung terhadap tanaman kelapa sawit, termasuk kebakaran pada 21 Agustus 2026 di Blok K40 dan K37 SWE yang melanda sekitar tujuh hektare area perkebunan sawit.
Kebakaran tersebut menyebabkan sekitar 875 pohon sawit mengalami stres dan berdampak pada sekitar enam hektare kawasan High Conservation Value (HCV).
Pada hari yang sama, kebakaran di Area Land Clearing SSE Blok D26 berdampak sekitar 47,7 hektare yang terdiri atas 36 hektare area land clearing dan sekitar 11 hektare tanaman belum menghasilkan atau immature.
Kebakaran lainnya pada 25 Agustus 2026 di CDE Blok D19 berdampak sekitar 0,8 hektare tanaman immature berumur 24 bulan dan sekitar 95 pohon sawit.
Sementara pada 26 Agustus 2026 di CDE Blok D25, sekitar 0,6 hektare tanaman immature berumur 27 bulan terdampak kebakaran dengan sekitar 82 pohon sawit.
Menurutnya, laporan awal dari lapangan menunjukkan adanya dugaan api berasal dari aktivitas pembakaran oleh pihak yang belum diketahui identitasnya, antara lain untuk pembukaan lahan atau perladangan.
Namun, ia menegaskan dugaan tersebut belum dapat menjadi kesimpulan mengenai penyebab pasti kebakaran karena masih membutuhkan pemeriksaan dan verifikasi oleh instansi berwenang.
"Kami perlu berhati-hati dalam menyampaikan penyebab kebakaran. Informasi mengenai dugaan pembakaran oleh pihak yang tidak dikenal merupakan hasil pengamatan awal di lapangan," ujarnya.
Ia mengatakan, dalam sejumlah kejadian, perusahaan bergerak cepat melakukan pemadaman melalui Emergency Response Team (ERT), petugas keamanan, mobil pemadam, pompa bertekanan tinggi, water booster, knapsack fire equipment, profile tank, dan peralatan pendukung lainnya.
Pada kejadian tertentu, perusahaan juga membuat sekat bakar menggunakan alat berat untuk mencegah api meluas ke area lainnya.
Ia mengapresiasi respons penanganan tersebut, tetapi meminta upaya pencegahan ditingkatkan, terutama ketika kondisi cuaca dan lahan meningkatkan risiko kebakaran.
Menurutnya, perusahaan, masyarakat sekitar kawasan perkebunan, dan pemerintah daerah perlu meningkatkan patroli, deteksi dini, pemeliharaan sekat bakar, serta komunikasi untuk mencegah kebakaran.
"Kami mendorong seluruh pihak, baik perusahaan, masyarakat di sekitar kawasan perkebunan, maupun pemerintah daerah, untuk meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan kebakaran," katanya.
Ia mengatakan Dinas Perkebunan dan Peternakan Papua Tengah akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, perusahaan, masyarakat, dan instansi terkait untuk memantau serta mengendalikan kebakaran di wilayah perkebunan.
Menurutnya, pengembangan perkebunan di Papua Tengah harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, keselamatan masyarakat, dan kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.
"Setiap kejadian kebakaran perlu dilaporkan, didokumentasikan, ditangani secara cepat, dan dievaluasi agar kejadian serupa tidak terus berulang," ujarnya.
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.