Kenapa Anak Perlu Merasa Bosan? Ternyata Ada Manfaatnya
CNN Indonesia
Minggu, 23 Agu 2026 19:15 WIB
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --
"Bosan", kata ini mungkin cukup sering diucapkan anak ketika tidak tahu harus melakukan apa. Saat mendengarnya, orang tua tak jarang langsung mencarikan cara agar anak kembali sibuk dan tidak rewel.
Anak ditawari mainan, tontonan, hingga berbagai aktivitas lain untuk mengusir rasa bosan. Hal ini memang wajar dilakukan, terutama ketika orang tua ingin anak tetap terhibur.
Namun, rasa bosan yang dialami anak tidak selalu harus segera dihilangkan. Sesekali memberi anak ruang untuk menghadapi rasa bosan justru dapat menjadi bagian dari proses tumbuh kembangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa yang sebenarnya manfaat ketika anak dibiarkan menghadapi rasa bosan?
1. Melatih anak mengatur diri
Rasa bosan nyatanya dapat menjadi bagian dari proses belajar anak mengelola keadaan yang tidak menyenangkan.
Studi dalam Journal of Experimental Child Psychology pada anak berusia 4-6 tahun, melihat bagaimana rasa bosan pada anak berkaitan dengan proses self-regulation atau kemampuan mengatur diri.
Hasilnya menunjukkan rasa bosan pada anak berkaitan dengan proses regulasi diri seperti yang juga ditemukan pada kelompok usia lebih tua.
Ketika anak merasa bosan, mereka perlu mencari cara untuk menghadapi perasaan tersebut. Mereka tidak selalu harus menunggu orang tua menyediakan kegiatan baru.
2. Mendorong anak mencari kegiatan sendiri
Bosan juga bisa menjadi momen ketika anak mulai berpikir, "Terus aku mau ngapain?" Anak-anak menggunakan berbagai cara untuk mengatasi rasa bosan. Sebagian mencari stimulasi sosial, misalnya meminta orang tua bermain bersama.
Pilihan Redaksi
- Pengamat Cilik, Ini 5 Hal yang Diam-diam Diperhatikan Anak dari Ortu
- 7 Hobi yang Cocok untuk Orang Tua Baru, Tak Cuma Urus Anak
- 7 Kebiasaan Orang Tua Ini Merusak EQ Anak, Wajib Hindari
Sebagian lainnya menggunakan strategi perilaku, seperti mencari mainan dan bermain sendiri.
Hal tersebut menunjukkan anak tidak sekadar pasif ketika bosan. Mereka dapat mencoba mencari aktivitas yang membuat dirinya kembali tertarik. Di sinilah orang tua bisa memberi ruang.
Alih-alih selalu memberikan daftar kegiatan, anak dapat diberi kesempatan untuk memilih sendiri apa yang ingin dilakukan selama tetap berada dalam lingkungan yang aman.
3. Memberi ruang untuk bermain tanpa banyak aturan
Anak juga bisa menggunakan waktu luang untuk melakukan unstructured play atau bermain tanpa aturan dan tujuan yang terlalu ditentukan orang dewasa.
Misalnya, anak mengubah kardus menjadi rumah, menyusun mainan dengan cara sendiri, menggambar tanpa mengikuti contoh, atau sekadar memainkan boneka sesuai cerita yang ia buat.
Waktu seperti ini memberi anak kesempatan untuk menentukan sendiri apa yang ingin dilakukan dan bagaimana ia ingin bermain.
Meski demikian, bukan berarti anak harus dibiarkan bosan sepanjang hari. Anak tetap membutuhkan stimulasi, interaksi, dan pendampingan orang tua.
Bosan memang bukan perasaan yang menyenangkan, tetapi mengalaminya sesekali dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar menghadapinya.
(anm/fef)