Jakarta (ANTARA) - Hari Minggu identik dengan waktu untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas selama sepekan. Bagi sebagian orang, Minggu menjadi kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, bepergian, atau sekadar menikmati waktu santai di rumah.

Namun, pernahkah terpikir kenapa hari Minggu yang dipilih sebagai hari libur, bukan hari lain?

Ternyata, kebiasaan menjadikan Minggu sebagai hari istirahat memiliki sejarah yang cukup panjang. Jejaknya dapat ditelusuri hingga Kekaisaran Romawi pada abad ke-4 Masehi.

Pada masa Romawi, masyarakat telah mengenal pembagian waktu dalam satu pekan menjadi tujuh hari. Hari Minggu dikenal sebagai dies Solis atau "hari Matahari".

Pada 321 Masehi, Kaisar Konstantinus I mengeluarkan aturan yang menjadikan hari Minggu sebagai hari peristirahatan bagi masyarakat di kota-kota dan berbagai aktivitas umum.

Aturan tersebut dikenal sebagai salah satu ketetapan hukum paling awal yang secara resmi mengatur Minggu sebagai hari istirahat. Meski demikian, aturan itu tidak berarti seluruh aktivitas benar-benar berhenti. Pekerjaan di bidang pertanian masih mendapat pengecualian karena dianggap bergantung pada kondisi dan kebutuhan tertentu.

Keputusan Konstantinus juga memiliki latar belakang yang berkaitan dengan kondisi sosial dan keagamaan Kekaisaran Romawi pada masa itu. Konstantinus sendiri dikenal sebagai kaisar yang memberikan ruang besar bagi perkembangan Kekristenan di Kekaisaran Romawi.

Dalam tradisi Kristen, Minggu kemudian memiliki kedudukan penting karena dipandang sebagai hari untuk memperingati kebangkitan Yesus. Karena itu, Minggu semakin kuat identitasnya sebagai hari untuk beribadah sekaligus beristirahat.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan menjadikan Minggu sebagai hari istirahat semakin berkembang di berbagai wilayah Eropa.

Tradisi tersebut kemudian ikut memengaruhi sistem sosial dan ketenagakerjaan di negara-negara Eropa. Minggu tidak hanya dipandang sebagai hari keagamaan, tetapi juga berkembang menjadi waktu untuk menghentikan sementara aktivitas pekerjaan.

Hal ini membuat konsep "Minggu sebagai hari libur" semakin melekat dalam kehidupan masyarakat, bahkan ketika konteksnya tidak selalu berkaitan dengan ibadah.

Dalam perkembangannya, tradisi tersebut kemudian menyebar ke berbagai wilayah yang memiliki hubungan politik dan budaya dengan negara-negara Eropa.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, penggunaan Minggu sebagai hari istirahat juga memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan pengaruh Eropa pada masa kolonial.

Namun, kurang tepat jika dikatakan bahwa Belanda adalah pihak yang pertama kali menciptakan Minggu sebagai hari libur. Jauh sebelum masa kolonial Belanda, aturan mengenai Minggu sebagai hari istirahat sudah dikenal dalam hukum Romawi sejak abad ke-4.

Pengaruh Eropa kemudian ikut membentuk kebiasaan dan sistem kerja di wilayah Nusantara. Setelah Indonesia merdeka, Minggu tetap dikenal sebagai hari istirahat yang umum digunakan oleh masyarakat.

Dokumen hukum Indonesia pada masa awal kemerdekaan bahkan sudah mencatat Minggu sebagai hari yang pada umumnya digunakan untuk beristirahat. Dalam aturan hari libur yang ditetapkan pada 1953, misalnya, terdapat ketentuan mengenai hari libur yang jatuh pada hari Minggu dan mekanisme pemberian hari libur pengganti.

Artinya, kebiasaan tersebut bukan sekadar tradisi informal, tetapi kemudian masuk ke dalam pengaturan administrasi dan ketenagakerjaan.

Dari sejarah tersebut, bisa dilihat bahwa Minggu menjadi hari libur bukan karena satu keputusan yang langsung berlaku di seluruh dunia.

Kebiasaan tersebut berkembang selama berabad-abad, mulai dari sistem tujuh hari yang digunakan masyarakat kuno, aturan Kekaisaran Romawi pada masa Kaisar Konstantinus, perkembangan tradisi Kristen di Eropa, hingga akhirnya menjadi bagian dari sistem sosial dan ketenagakerjaan modern.

Di Indonesia, Minggu pun akhirnya menjadi bagian yang sangat akrab dari ritme kehidupan masyarakat. Setelah Senin sampai Sabtu digunakan untuk bekerja atau beraktivitas, Minggu seolah menjadi tanda bahwa sudah waktunya berhenti sejenak.

Jadi, ketika alarm tidak berbunyi pada Minggu pagi dan kalender menunjukkan tulisan "Minggu", ternyata ada sejarah panjang di balik kesempatan untuk menarik selimut lebih lama.

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.