Kutai Timur perkuat edukasi untuk memutus penyebaran HIV/AIDS - ANTARA News Kalimantan Timur
Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur memperkuat edukasi menyeluruh untuk memutus rantai penyebaran Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immuno-Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), guna mewujudkan masyarakat yang sehat dan kuat.
Hal ini penting karena penyebarannya di Kutim tergolong tinggi, yakni hingga Mei 2026 Dinas Kesehatan setempat mencatat terdapat 285 kasus baru Orang dengan HIV (ODHIV) yang berhasil diidentifikasi.
"Kami terus berupaya meminimalisir penyebaran HIV/AIDS, di antaranya gencar melakukan sosialisasi menyeluruh ke banyak kalangan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk ke perusahaan," ujar Wakil Bupati Kutim Mahyunadi di Sangatta, Minggu.
Sedangkan ke depan, pendekatan sosialisasi akan diperkuat dengan strategi yang mampu menyentuh penyebab utama penyebaran HIV, termasuk memperkuat pencegahan sejak dini melalui edukasi kepada masyarakat, keluarga, dan kalangan pelajar.
Ia pun meminta Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) setempat tidak berhenti pada pendataan dan penyuluhan, namun perlu diimbangi dengan pendampingan lebih intensif terhadap kelompok berisiko melalui pendekatan sosial, keagamaan, maupun pembinaan agar mereka dapat menjalani kehidupan lebih sehat.
Mahyunadi juga menyebut pentingnya menghilangkan stigma yang membuat penderita takut membuka diri atau menjalani pengobatan, sementara penderita memiliki tanggung jawab untuk menjalani pengobatan dan tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
Sebelumnya, saat Rapat Koordinasi Penanggulangan HIV/AIDS gelaran KPAD Kutim pada Jumat (24/7/2026), ia pun mengatakan bahwa dalam penanganan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini perlu langkah kongkret dan efektif agar kasusnya tidak meningkat.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati memperkirakan, kelompok masyarakat yang berisiko terinfeksi HIV/AIDS di Kutim sekitar 23.000 orang, namun saat ini baru sekitar 34 persen yang berhasil dijangkau melalui layanan skrining HIV/AIDS.
"Sementara hingga Mei 2026 terdapat 285 kasus baru ODHIV yang berhasil ditemukan. Semakin banyak yang teridentifikasi, semakin besar peluang mereka mendapat pengobatan sehingga risiko penularan dapat ditekan," ujarnya.
Untuk layanan HIV/AIDS, katanya, saat ini sudah tersebar di 31 fasilitas kesehatan yang terdiri atas 21 puskesmas, tiga rumah sakit pemerintah, tujuh rumah sakit swasta, dan satu klinik.
"Berdasarkan indikator global WHO, capaian Kutim hingga Mei 2026 sebesar 72 persen untuk ODHIV yang menjalani terapi Antiretroviral (ARV), 61 persen untuk pemeriksaan viral load, dan 58 persen untuk pasien dengan viral load tersupresi," kata Yuwana.
Pewarta: M.Ghofar
Editor : Helti Marini S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.