Kuil Jokhang, Istana Potala dan Jalan Barkhor adalah tiga tempat ziarah sekaligus wisata yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Lhasa

Beijing (ANTARA) - Alkisah, dulu ada demon betina raksasa yang terbaring telentang di sepanjang kota Lhasa.

Untuk menaklukkan kekuatan negatif dari makhluk jahat tersebut dan sebagai upaya untuk memasukkan agama Budha ke tanah Tibet, dibangunlah serangkaian kuil di titik-titik penting di "tubuh" demon tersebut.

Kuil-kuil ini berfungsi seperti "pasak" untuk menahan demon betina tersebut tetap di tempatnya dan tidak mengganggu manusia.

Kemudian, di titik yang dipercaya sebagai "jantung" demon tersebut, dibangunlah kuil Jokhang, atau dalam bahasa Tibet disebut Tsuglagkhang yang sudah berusia lebih dari 1.300 tahun.

Kuil Jokhang

Kisah itu diceritakan oleh biksu Dan Zeng, anggota Komite Administrasi Kuil Jokhang sekaligus bertugas sebagai pemandu saat ANTARA berkunjung ke kuil tersebut pada 21 Juli.

Kuil Jokhang memang berdiri di Lhasa, ibu kota Daerah Otonom Xizang atau lebih dikenal dengan sebutan Tibet, wilayah seluas lebih dari 1,2 juta km persegi atau sekitar seperdelapan luas daratan China.

Lhasa berarti "Tanah Suci" atau "Tempat Para Dewa" dalam bahasa Tibet. Kota tersebut punya ketinggian rata-rata lebih dari 3.650 meter di atas permukaan laut dengan puluhan kuil beserta kapel kecil yang masih menjadi tujuan tujuan ziarah para pemeluk agama Budha aliran Tibet.

Kembali ke kisah Kuil Jokhang, dua istri Raja Songtsen Gampo, raja ke-33 dari Dinasti Tubo yang menyatukan berbagai wilayah di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, merupakan tokoh yang punya andil penting dalam pendirian kuil tersebut.

Kedua istri Raja Songtsen Gampo yaitu Putri Wencheng dari Tiongkok dan Putri Bhrikuti dari Nepal, melalui perhitungan astrologi menemukan bahwa jantung demon tersebut terletak tepat di bawah sebuah Danau Wothang di Lhasa.

Atas petunjuk itu, Songtsen Gampo pun memerintahkan untuk menimbun danau tersebut dan di atasnya dibangun Kuil Jokhang sebagai penakluk kekuatan negatif sekaligus menjadi pusat spiritual Tibet.

Namun, selain legenda yang kuat, catatan sejarah mengatakan pendirian Kuil Jokhang adalah pada sekitar tahun 649 Masehi, pada masa kejayaan Kerajaan Tubo dan kemudian direnovasi pada 1409.

Pendirian kuil itu juga ditujukan untuk menyimpan arca Buddha Tidur (patung Sakyamuni pada usia 12 tahun) yang dibawa Putri Wencheng, putri bangsawan keluarga Dinasti Tang yang saat itu berpusat di Chang'an (kota Xian, provinsi Shaanxi saat ini).

Memang ketika tiba di Lhasa, tempat pertama yang biasanya dituju oleh para peziarah adalah Kuil Jokhang. Kuil itu merupakan bangunan dari tanah dan kayu tertua seluas 25.100 meter persegi dengan desain memadukan unsur Tibet, Tang, Nepal, dan India.

Dua pintu masuk

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.