Jakarta -

Kalau lima tahun lalu ada yang bilang lensa autofokus yang populer untuk kamera mirrorless akan datang dari merek-merek dari China yang namanya kedengaran asing seperti Viltrox, Meike, SG-image, 7Artisans, mungkin banyak yang tidak percaya. Tapi itulah yang terjadi sepanjang 2026.

Setiap bulan, kadang setiap minggu, selalu ada lensa baru dari salah satu merek ini yang diumumkan, dan uniknya, mereka bukan hanya meniru satu sama lain, tapi mulai punya karakter dan strategi pasar masing-masing.

Lensa autofokus merek ChinaLensa Viltrox untuk L-mount, memungkinkan untuk dipasang ke Panasonic Lumix S5 II. Foto: Enche Tjin

Viltrox, Paling Agresif Berekspansi

Viltrox tetap menjadi yang paling rajin merilis produk baru. Sepanjang tahun ini saja mereka memperkenalkan lini 'EVO', lensa full-frame dengan kualitas optik yang mereka klaim setara atau melampaui lensa APO kelas atas, dengan sebutan 'Hyper APO'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu Viltrox juga merambah mount yang sebelumnya jarang disentuh merek pihak ketiga, termasuk L-mount (Panasonic, Leica, Sigma). Yang menarik, mereka juga mulai bermain di segmen pancake compact lewat seri 26mm f/2.8 EVO, ditambah lensa prime cepat seperti 35mm f/1.4 Pro dan 40mm f/1.2 Pro untuk format APS-C.

Dengan sembilan hingga sepuluh produk baru diperkenalkan hanya dalam satu pameran di Beijing di bulan Agustus 2026 ini, Viltrox telah menjadi salah satu produsen lensa paling produktif di dunia.

Lensa autofokus merek ChinaLensa 7Artisans AF 135mm f/1.8 seri MAX untuk Nikon Z. Foto: Enche Tjin

7Artisans, dari Manual Focus ke Seri 'Max' yang Berani

7Artisans sepuluh tahun lalu dikenal sebagai spesialis lensa manual focus dengan bodi metal yang solid dan karakter bokeh yang unik. Tapi tahun ini mereka menunjukkan ambisi baru lewat seri 'Max', yaitu lensa autofokus kelas menengah dengan harga yang sangat agresif.

Contohnya lensa 135mm f/1.8 Max yang dibanderol dengan harga Rp 14 jutaan, menjadikannya lensa autofokus 135mm f/1.8 termurah yang pernah ada untuk mount Nikon Z. Belum lama ini mereka juga merilis 10mm f/2.5 Max, fisheye full-frame dengan autofokus, sesuatu yang nyaris tidak ada pesaingnya di pasar.

Pergeseran dari manual ke autofokus ini penting, karena artinya 7Artisans mulai menyasar fotografer event, dokumentasi, dan konten kreator video yang butuh kepraktisan lensa autofokus, bukan cuma kolektor lensa vintage-style.

Lensa autofokus merek ChinaLensa pancake SG-image AF 25mm f/1.8 untuk Fujifilm X. Foto: Enche Tjin

SG-image, Spesialis Lensa Mungil

Kalau ada merek yang konsisten dengan satu identitas, itu SG-image. Mereka fokus di ukuran dan berat lensa, maka itu lensa-lensa yang dirilis sebagian besar lebih compact daripada merk lain, tapi lensa-lensa tersebut tetap punya bukaan besar dan autofokus.

Lensa 35mm f/2.2 mereka bahkan diklaim sebagai lensa pancake autofokus full-frame pertama yang menembus bukaan di bawah f/2.8. Untuk pengguna Fujifilm X, mereka juga merilis 35mm f/1.4 autofokus.

Ukuran lensanya relatif compact tapi bukaannya sangat besar, cocok untuk yang ingin kamera mirrorless tetap ringkas di tas harian. SG-image juga membuat lensa untuk berbagai sistem kamera, Sony E-mount, Fujifilm X, Nikon Z, micr four thirds sampai L-mount, menunjukkan mereka tidak mau terjebak hanya di satu ekosistem.

Lensa autofokus merek ChinaLensa Meike AF 85mm f/1.4 MIX II makin sempurna untuk portrait professional. Foto: Enche Tjin

Meike, Makin ambisius

Meike, yang tadinya lebih dikenal sebagai produsen aksesoris kamera, lensa sinema manual, kini justru mengejutkan dengan merilis roadmap lensa autofokus yang ambisius, lensa zoom 24-70mm f/2.8 full-frame, lensa fix 50mm f/1.2 dan 85mm f/1.2.

Semua lensa tersebut dibekali motor VCM yang sangat cepat dan akurat, bahkan juga mengembangkan lensa autofokus untuk mount medium format Fujifilm GFX seperti 65mm f/1.4 dan 110mm f/1.8. Ini langkah berani, karena selama ini nyaris tidak ada pihak ketiga yang berani bermain di GFX dengan autofokus penuh.

Kenapa Ini Semua Terjadi Sekarang?

Ada beberapa faktor yang mendorong ledakan ini. Pertama, teknologi motor autofokus STM dan VCM yang tadinya mahal kini sudah bisa diproduksi massal dengan biaya rendah oleh pabrikan-pabrikan di Shenzhen dan sekitarnya.

Kedua, ekosistem mirrorless (Sony E, Nikon Z, Fujifilm X, L-mount) sudah cukup matang dan populer sehingga ada pasar besar fotografer yang mencari alternatif lensa yang lebih murah.

Ketiga, kompetisi antar merek China sendiri semakin ketat. Jika salah satu merek merilis lensa dengan spesifikasi tertentu, merek lain buru-buru menyusul dengan varian serupa di harga yang lebih murah.

Mana yang Benar-Benar 'Worth It'?

Dari semua yang saya coba dan amati, saya melihat tren jelas, kalau kebutuhan Anda adalah lensa ringkas harian dengan kualitas optik bagus dan harga terjangkau, SG-image dan seri EVO/Air dari Viltrox adalah pilihan yang sangat masuk akal. Kalau butuh lensa cepat untuk portrait dengan bokeh maksimal tapi budget terbatas, 7Artisans Max dan Meike MIX series patut dilirik.

Yang perlu diingat, 'murah' bukan berarti 'tanpa kompromi'. Kontrol kualitas merek-merek ini masih bervariasi antar batch produksi, purna jual dan garansi di Indonesia juga belum serapi merek besar, dan software/firmware kadang masih perlu pembaruan manual lewat USB. Tapi untuk fotografer yang baru mulai dan ingin bereksperimen dengan focal length tertentu tanpa menguras tabungan, opsi-opsi ini jauh lebih masuk akal dibanding dulu.

Dampak ke Pasar Fotografi Indonesia

Sebagai reviewer yang sering menguji lensa-lensa dari China, saya melihat langsung bagaimana permintaan terhadap merek-merek ini terus naik di Indonesia. Banyak fotografer muda dan konten kreator lebih memilih membeli dua-tiga lensa alternatif China dibanding satu lensa native yang harganya bisa berkali-kali lipat. Ini sehat untuk ekosistem fotografi kita, makin banyak orang bisa mengakses peralatan berkualitas tanpa harus menunggu bertahun-tahun menabung.

Tapi ini juga menuntut konsumen untuk lebih jeli, baca ulasan, pahami perbedaan versi manual dan autofokus, dan pastikan membeli dari penjual yang menyediakan garansi serta dukungan purna jual yang jelas.

Perang lensa China 2026 belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dengan makin banyak merek yang berani masuk ke segmen premium seperti lensa autofokus f/1.2, lensa zoom profesional, bahkan lensa untuk kamera medium format. Sangat mungkin dalam satu-dua tahun ke depan batas antara 'lensa alternatif murah' dan 'lensa kelas profesional' akan makin kabur. Bagi kita para fotografer, ini kabar baik. Pilihan makin banyak, harga makin bersaing, dan yang paling penting, kita yang akan menikmati manfaatnya.

(rns/fay)


TAGS

LIHAT LAINNYA