Mathias Muchus Bicara Film Istimewa
Jakarta -
Film Istimewa menghadirkan cerita tentang kehidupan anak-anak penyandang disabilitas yang tinggal di Rumah Istimewa. Pemeran Mahendra, Mathias Muchus menyoroti arti rumah sebagai tempat aman sekaligus ruang yang menghadirkan kasih sayang dan penerimaan.
Mahendra menjadi sosok yang menjadi figur ayah bagi anak-anak di Rumah Istimewa. Menurutnya, rumah tersebut menjadi tempat yang memberikan kepastian di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian.
"Di dalam ketidakpastian itu ada kepastian. Salah satunya di Rumah Istimewa. Di situ selalu ada kepastian karena di situ tuh kita memunculkan cinta sebetulnya, interaksi antar manusia yang sangat manusiawi," kata Mathias Muchus dalam press screening film Istimewa di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mathias mengatakan hubungan yang terjalin di Rumah Istimewa tidak didasari kepentingan tertentu. Menurutnya, interaksi antarkarakter dalam film tersebut dibangun dari ketulusan dan melihat setiap orang sebagai manusia yang utuh.
"Jadi hubungan antar hati ke hati, menumbuhkan semacam hubungan yang benar-benar tulus banget. Tanpa memikirkan bahwa siapa yang di hadapan saya ini bukan anak saya atau siapa gitu-gitu, nggak. Ini sosok manusia yang sama dengan kita," ujarnya.
Ia pun menilai bukan anak-anak penyandang disabilitas tersebut yang tidak utuh, melainkan cara pandang masyarakat yang kerap memberikan penilaian dan batasan.
"Jadi mereka ini adalah utuh, yang nggak utuh tuh kita sebetulnya, karena pikiran kita yang melenceng. Karena kita menilai, nggak penting mereka dinilai. Itu salahnya kita sebetulnya," tutur Mathias.
Selama menjalani proses syuting, Mathias mengaku mendapatkan pengalaman yang bermakna. Ia melihat kepercayaan diri para pemain anak penyandang disabilitas tersebut tumbuh seiring proses penggarapan film.
"Jadi saya bangga bahwa selama saya proses shooting dengan mereka itu, saya bangga bahwa mereka kepercayaan dirinya muncul dengan luar biasa," katanya.
Mathias menyebut para pemain yang awalnya minder dan kesulitan berbicara akhirnya mampu tampil percaya diri di depan kamera.
"Tadinya mereka tuh minder, takut, ngomong pun susah segala macam. Tapi setelah kita mencoba untuk mendalami mereka dari hati ke hati, mereka muncul tuh kepercayaan dirinya," ujarnya.
Ia juga merasa hubungan selama proses produksi tidak lagi sekadar hubungan antara pemain dan lawan main. Mathias menganggap para pemain anak tersebut seperti bagian dari keluarga.
"Saya tidak melihat mereka itu semacam pesakitan, nggak, sama dengan saya. Kadang-kadang mereka templok kepala saya, pegang kepala saya segala macam, that's it gitu lho kehidupan kita. Itu yang mahal sebetulnya," ungkapnya.
Menurut Mathias, pengalaman tersebut bahkan membuat perjalanan kariernya terasa semakin memiliki makna.
"Perjalanan karier saya ini adalah salah satu momen buat saya itu karier saya itu merasa punya makna dan arti. Artinya bisa share secara tulus gitu," katanya.
Dalam film Istimewa, sosok Mahendra bukan ayah kandung dari anak-anak Rumah Istimewa. Namun, kehadirannya menjadi sosok pelindung yang sangat berarti bagi mereka. Mathias mengatakan sosok ayah tidak seharusnya dibatasi oleh hubungan darah.
"Ayah itu adalah sosok yang bisa melindungi mereka. Siapa pun yang datang, anak siapa pun yang datang, kita yang lebih tua itu jatahnya ayah," ujarnya.
"Yang tidak mengayahkan itu adalah pikiran kita, bahwa kita memisahkan orang, 'ini kan bukan darah gue', 'ini kan bukan tetangga gue'. Itu yang rusak," sambungnya.
Sementara itu, sutradara Istimewa Ruben Adrian mengungkap pendekatan yang digunakannya ketika mengarahkan para pemain utama. Ia mengatakan tidak mengandalkan formula penyutradaraan tertentu, melainkan menggunakan pendekatan emosional.
"Ketika saya menjadi sutradara di film ini, saya sudah nggak pakai teknis, sudah nggak pakai formula dan segala macam, tapi saya pakai hati," kata Ruben.
Ruben menyebut para pemain anak dalam film tersebut sebagai sosok yang ia banggakan. Menurut Ruben, ketulusan para pemain turut membentuk film tersebut. Ia mengaku belajar mengenai kasih sayang dan memaafkan selama proses produksi.
"Teman-teman istimewa yang tadi teman-teman lihat yang ada di layar, itu adik-adik saya yang saya banggakan. Yang saya rasakan adalah energi dari ketulusan dari masing-masing semua karakter, semua pemain yang ada di sini. Dan itu ngebentuk dan menumbuhkan film Istimewa menjadi seperti sekarang," ujar Ruben.
"Buat saya, saya jadi belajar. Belajar tentang apa sih? Tentang saling mengasihi, saling memaafkan," lanjut Ruben.
Agus Kuncoro, yang berperan sebagai Aji, juga mengaku mendapatkan pelajaran besar dari para pemain penyandang disabilitas. Menurutnya, film Istimewa membuat dirinya kembali melihat kehidupan dari perspektif berbeda.
"Satu sih yang saya dapat, bahwa ini menyembuhkan saya dalam memandang hidup ini," kata Agus.
Ia membandingkan kehidupan para pemain yang memiliki keterbatasan fisik dengan orang-orang yang secara fisik lebih lengkap tetapi justru kerap mengeluh.
"Di tubuh yang sempurna ini tapi masih begitu banyak keluhan dan bahkan merasa hidup yang paling menderita. Sedangkan aktor-aktor yang ada di depan ini, mereka dengan keterbatasannya, mereka bisa tetap tersenyum dan bersyukur," ujarnya.
"Jadi memang permasalahannya itu bukan di tubuh atau di fisik, tapi permasalahannya adalah bagaimana cara kita berpikir," sambung Agus.
Hal serupa dirasakan Ajil Ditto yang memerankan Bagas. Ia mengaku salah satu momen paling membekas adalah ketika para pemain anak mendapat kabar palsu bahwa sosok ayah mereka meninggal dunia.
Ajil yang sejak awal berusaha menahan tangis justru ikut terbawa suasana melihat ketakutan para pemain anak kehilangan sosok ayah.
"Di situ gue melihat mereka benar-benar takut kehilangan Ayah, baik Ayah sosok Ayah Mahendra ataupun Ayah Mans sendiri," kata Ajil.
"Dan ketakutan itu entah kenapa ketransfer ke gue yang notabene belum lama menjadi anak Ayah waktu itu. Dan ikutan nangisnya, ikutan kejer juga," sambungnya.
Pengalaman tersebut membuat Ajil kembali merefleksikan cara pandangnya terhadap kehidupan.
"Masih banyak ngeluh, masih banyak komplain, meanwhile they are just happy with their life yang di mana itu nampar banget," ujarnya.
"Selesai shooting, banyak hal-hal yang akhirnya bikin gue lebih melek lagi sama cara mandang hidup supaya bisa lebih bahagia lagi sama seperti mereka," lanjut Ajil.
Film Istimewa merupakan drama keluarga Indonesia yang diangkat dari kisah nyata. Film produksi Kairos Pictures tersebut disutradarai Ruben Adrian dengan skenario ditulis Abdullah Mansuri.
Film ini menampilkan lima anak penyandang disabilitas, yakni Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul sebagai pemeran utama. Mereka dikisahkan tinggal bersama di Rumah Istimewa dan diasuh Pak Mahendra, sosok yang telah mereka anggap sebagai ayah sendiri.
Konflik bermula ketika Pak Mahendra divonis mengidap kanker dan memilih pergi diam-diam karena tidak ingin menunjukkan kerapuhannya kepada anak-anak. Kelima anak tersebut kemudian keluar dari rumah untuk mencari sosok ayah yang mereka cintai.
Istimewa dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026.
(fbr/mau)