Mendikdasmen: Jangan sebatas ajarkan bahasa daerah sebagai muatan lokal, tapi biasakan - ANTARA News Jawa Barat
Semarang (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengingatkan bahwa bahasa daerah jangan sebatas diajarkan sebagai pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah.
"Itu sangat penting. Tetapi yang jauh lebih penting adalah membiasakan menggunakan bahasa daerah," katanya saat membuka Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 di Kabupaten Semarang, Jumat.
Pembiasaan penggunaan bahasa daerah, kata dia, perlu dilakukan baik ketika berkomunikasi di dalam keluarga, forum resmi yang diselenggarakan pemerintah, maupun di forum rutin di tingkat warga.
"Karena bahasa itu soal kebiasaan dan soal pembiasaan," katanya.
Seiring dengan itu, kata dia, Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 tingkat Jawa Tengah menjadi forum yang memiliki manfaat besar dalam upaya melestarikan bahasa daerah.
Termasuk juga, berperan dalam menanamkan nilai-nilai akhlak mulia dan menanamkan rasa cinta kepada budaya daerah.
"Forum seperti ini menjadi sangat penting di tengah dunia yang semakin terbuka ketika banyak generasi muda, gen Z dan gen alpha sudah agak tercerabut dari akar tradisi dan budaya luhur bangsanya, termasuk bahasa daerah," katanya.
Ditegaskannya, bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa Indonesia sehingga pemerintah berkomitmen memajukan kebudayaan nasional dan bahasa sesuai amanat UUD 1945.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan pelestarian bahasa daerah, seperti Festival Tunas Bahasa Ibu.
"Karena kami setiap hari Kamis juga memakai bahasa Jawa, makanya itu masih ada, masih kita pakai, dan ketika kita memakai bahasa Jawa itu kita membuka jati diri," kata Gus Yasin, sapaan akrabnya.
Menurut dia, bahasa Jawa mengandung nilai tata krama yang secara otomatis akan terbentuk secara naluri ketika menggunakannya dalam berkomunikasi.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin menyebutkan festival itu diikuti 560 siswa SD dan SMP, beserta pendamping dan hanya berlangsung satu hari, yakni Sabtu (10/10).
Ada tujuh mata lomba, yakni menulis dan membaca aksara Jawa, mendongeng, berpidato, menulis cerkak, membaca geguritan, nembang macapat, dan komedi tunggal.
"Kegiatan ini menurut kami sangat efektif, karena bagaimana menanamkan kecintaan, kebanggaan, dan juga kemampuan berbahasa daerah melalui jalur pendidikan," katanya.
Sebagaimana disampaikan Mendikdasmen, kata dia, pembelajaran di kelas awal dengan menggunakan bahasa daerah ini dapat meningkatkan pemahaman peserta didik.
"Karena mereka lebih mengenal bahasa ibunya sehingga pada saat diberikan materi pembelajaran secara kontekstual mereka lebih memahaminya. Ini sangat efektif," katanya.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.