Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat kapasitas riset untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan dan meningkatkan nilai tambah Indonesia.

Mendiktisaintek mengajak civitas akademika di Indonesia agar mengaitkan penguatan riset dengan kebutuhan Indonesia, untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki. Dalam hal ini, ia menggunakan kopi dari dataran tinggi Sumatera Utara (Sumut) sebagai salah satu contoh.

Ia menyebut kopi dari wilayah Sumut memiliki permintaan di dunia, tetapi sebagian sebelumnya keluar dari daerah dalam bentuk biji mentah, dan kembali dalam bentuk produk olahan dengan nilai yang lebih tinggi. Perbedaan nilai tersebut berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Selisih harga itulah sebenarnya yang kita sebut sebagai pengetahuan dan teknologi. Kampus sesungguhnya adalah tempat dihasilkannya, diproduksinya, sains, teknologi, dan inovasi," kata Menteri Brian, Senin..

Brian juga mengaitkan kapasitas riset dengan kemampuan suatu negara untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah atau middle-income trap. Ia menyebutkan perbandingan jumlah peneliti antara negara berpenghasilan tinggi dan kelompok negara berpenghasilan menengah.

Menurut data yang dihimpunnya, negara berpenghasilan tinggi memiliki sekitar 4.100 peneliti per satu juta penduduk, sedangkan kelompok negara berpenghasilan menengah memiliki kurang dari 1.000 peneliti per satu juta penduduk.

"Kalau kita ingin naik kelas menjadi negara maju, jumlah peneliti kita tidak bisa ditawar lagi, jumlah kapasitas riset kita tidak bisa kita berdiam diri, harus kita naikkan," ujarnya.

Mendiktisaintek menekankan pentingnya keterhubungan antara perguruan tinggi dan industri dalam membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Ia juga menegaskan bahwa lembaga riset yang unggul tidak cukup dinilai dari banyaknya makalah atau jurnal yang dihasilkan.

Publikasi ilmiah tetap penting sebagai bagian dari proses pengujian pengetahuan oleh komunitas ilmiah, tetapi hasil penelitian juga perlu diarahkan untuk menjawab persoalan di dunia nyata.

"Penelitian yang berhenti di lemari perpustakaan tentu belum bisa menciptakan apapun. Dampak baru dirasakan ketika ada orang di luar kampus yang hidupnya berubah karena penemuan-penemuan yang kita lakukan," tutur Brian Yuliarto.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dongkrak nilai tambah RI, Mendiktisaintek minta kampus perkuat riset

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.