Jakarta, CNN Indonesia --

Polandia mengeklaim Rusia tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Pakta Pertahanan Negara Atlantik Utara (NATO) selama masih menginvasi Ukraina.

Berbicara kepada lembaga penyiaran publik TVP Info pada Senin (28/9), Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski mengeklaim Warsawa memiliki informasi dari berbagai sumber yang menunjukkan Rusia sedang "mempersiapkan sesuatu yang besar tahun ini".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika ditanya seperti apa rencana Moskow tersebut, ia menjawab: "Tentu saja hanya Putin yang mengetahuinya. Namun, kita harus siap, tidak boleh membiarkan diri kita dimanipulasi, dan harus tetap waspada agar sebagai sebuah aliansi, kita dapat segera merespons setiap provokasi."

"Rusia tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap NATO. Seluruh kekuatan militernya masih dikerahkan di Ukraina," kata Sikorski lagi seperti dikutip AFP.

Namun, Sikorski memperkirakan Moskow dapat mencoba melakukan "sesuatu dalam skala yang lebih kecil yang berpotensi memicu perbedaan pendapat di antara negara-negara sekutu".

Menurutnya, insiden yang memecah belah anggota NATO dari Eropa dan Amerika Serikat terkait apakah klausul pertahanan bersama dalam Pasal 5 NATO dapat diberlakukan akan menguntungkan Kremlin.

Pilihan Redaksi

  • Menkeu AS Kirim Utusan ke Seluruh Dunia, Ajak Kucilkan Iran
  • 8 Marinir AS Terluka Kena Serangan Rudal Iran di Selat Hormuz
  • Inggris Tangkap 5 Orang Dekat Pangkalan AS, Diduga Rencanakan Serangan

"Rusia mungkin akan melakukan tindakan yang selama ini sudah dilakukannya, tetapi dengan cara yang lebih agresif," tambahnya.

Pernyataan dari Polandia ini muncul di tengah ketegangan antara Rusia dan negara Eropa menyusul invasi Moskow ke Ukraina sejak 2022 yang belum juga terlihat akan berakhir. Belakangan saling serang antara Rusia vs Ukraina juga kembali meningkat.

Ancaman Rusia belakangan bahkan makin terasa meluas ke negara Eropa terutama di bagian timur.

Negara Barat telah menuduh Moskow melakukan sabotase dan pelanggaran wilayah udara sebagai bagian dari kampanye perang hibrida terhadap negara-negara anggota NATO dan Uni Eropa.

(rds)