Mengapa Belanda Kembali ke Indonesia Setelah Merdeka? Ini Latar Belakangnya
Keinginan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia kemudian menimbulkan berbagai konflik. Kedatangan pasukan Sekutu yang disertai Netherlands Indies Civil Administration atau NICA memicu kecurigaan dan perlawanan rakyat Indonesia di berbagai daerah.
Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa meskipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan, Belanda masih menganggap Indonesia sebagai wilayah koloninya dan membentuk NICA untuk menjalankan usaha merebut kembali wilayah tersebut.
Lantas, mengapa Belanda ingin kembali menguasai Indonesia padahal kemerdekaan telah diproklamasikan? Berikut penjelasan mengenai alasan dan berbagai upaya yang dilakukan Belanda setelah Indonesia merdeka.
Baca Juga: Mengapa Belanda Akhirnya Mengakui Kedaulatan Indonesia?
Belanda Tidak Mengakui Kemerdekaan Indonesia
Salah satu alasan utama Belanda ingin kembali menguasai Indonesia adalah karena Belanda tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Belanda beranggapan bahwa Indonesia masih merupakan bagian dari wilayah kekuasaannya. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, pemerintahan kolonial Belanda memang kehilangan kendali atas wilayah tersebut.
Setelah Jepang menyerah pada 1945, Belanda melihat kondisi tersebut sebagai kesempatan untuk mengembalikan kekuasaannya.
Pandangan tersebut berbeda dengan sikap bangsa Indonesia. Setelah Jepang menyerah, para pemimpin Indonesia memanfaatkan situasi untuk memproklamasikan kemerdekaan. Karena itu, bagi Indonesia, kekuasaan Belanda telah berakhir dan Indonesia memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri.
Sumber dari Roboguru juga menjelaskan bahwa Belanda merasa berhak mendapatkan kembali Indonesia setelah wilayah tersebut sebelumnya berada di bawah pendudukan Jepang.
Belanda juga menganggap Indonesia masih berada di bawah kekuasaannya sehingga tidak mengakui kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Kepentingan Ekonomi Menjadi Salah Satu Faktor Penting
Keinginan Belanda untuk kembali ke Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekonomi. Selama masa kolonial, Indonesia merupakan wilayah yang memiliki berbagai sumber daya alam bernilai tinggi.
Kepentingan ekonomi tersebut sudah menjadi salah satu alasan penting dalam sejarah panjang kolonialisme Belanda di Nusantara. Rempah-rempah seperti cengkih, pala, dan lada memiliki nilai perdagangan yang tinggi.
Selain itu, wilayah Indonesia juga menghasilkan berbagai komoditas perkebunan seperti kopi, gula, teh, tembakau, dan hasil bumi lainnya.
Setelah Perang Dunia II berakhir, Belanda menghadapi kondisi ekonomi yang berat. Karena itu, menguasai kembali Indonesia memiliki arti penting bagi kepentingan ekonomi Belanda.
Kembalinya kekuasaan kolonial dapat membuka kesempatan bagi Belanda untuk mendapatkan kembali akses terhadap sumber daya, perdagangan, perkebunan, serta kegiatan ekonomi yang sebelumnya mereka kuasai.
Sumber Portal Purwokerto juga menyebutkan bahwa salah satu tujuan Belanda kembali ke Indonesia adalah menguasai sumber daya yang terdapat di Indonesia dan mengembalikan kekuasaan mereka.
Dengan demikian, persoalan tersebut bukan hanya mengenai wilayah kekuasaan. Ada kepentingan ekonomi yang membuat Belanda berusaha mempertahankan pengaruhnya di Indonesia.
Kedatangan Sekutu Menjadi Kesempatan bagi Belanda
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, pasukan Sekutu datang ke Indonesia. Kedatangan mereka secara resmi memiliki beberapa tugas, seperti melucuti tentara Jepang, menerima penyerahan kekuasaan dari Jepang, dan membebaskan tawanan perang.
Pasukan Sekutu mulai masuk ke Indonesia pada September 1945. Namun, kedatangan mereka tidak hanya membawa pasukan Inggris. Belanda juga ikut masuk melalui NICA.
Arsip Nasional Republik Indonesia menjelaskan bahwa ketika pasukan Sekutu memasuki Indonesia pada 29 September 1945 untuk melucuti tentara Jepang dan membebaskan para tahanan, tentara Belanda ikut dalam armada Sekutu.
Belanda kemudian membentuk NICA sebagai pemerintahan administrasi sipil untuk membantu usaha merebut kembali Indonesia.
Situasi inilah yang kemudian menimbulkan persoalan. Bagi rakyat Indonesia, kedatangan Sekutu seharusnya hanya berkaitan dengan urusan pasca Perang Dunia II. Namun, keberadaan NICA membuat rakyat melihat adanya upaya untuk menghidupkan kembali pemerintahan kolonial Belanda.
Apa Itu NICA dan Apa Tujuannya?
NICA merupakan singkatan dari Netherlands Indies Civil Administration. Organisasi ini dibentuk oleh Belanda untuk menjalankan administrasi sipil di wilayah Indonesia setelah berakhirnya pendudukan Jepang.
Keberadaan NICA menjadi sangat penting dalam usaha Belanda mendapatkan kembali kendali atas Indonesia. NICA tidak datang untuk mengakui pemerintahan Republik Indonesia yang baru berdiri. Sebaliknya, NICA berusaha memulihkan administrasi pemerintahan kolonial Belanda.
Arsip Nasional Republik Indonesia menyebutkan bahwa NICA bermaksud memulihkan dan mendirikan kembali pemerintahan kolonial di wilayah Indonesia.
Situasi semakin tegang ketika NICA mulai mempersenjatai mantan anggota KNIL atau Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger. Hal tersebut kemudian memicu berbagai kontak senjata antara pihak Indonesia dan Belanda.
Kehadiran NICA akhirnya membuat rakyat Indonesia semakin waspada. Mereka tidak ingin kemerdekaan yang baru diperoleh kembali dirampas oleh Belanda.
Baca Juga: Mengapa Belanda Akhirnya Mengakui Kedaulatan Indonesia?
Belanda Memanfaatkan Kedatangan Pasukan Sekutu
Belanda tidak datang ke Indonesia secara langsung dengan menyatakan ingin menjajah kembali. Mereka memanfaatkan situasi setelah berakhirnya Perang Dunia II dan kedatangan pasukan Sekutu.
Sebelum pasukan Sekutu datang, Inggris dan Belanda telah membuat Civil Affairs Agreement pada 24 Agustus 1945. Perjanjian tersebut berkaitan dengan rencana pengalihan pemerintahan di Indonesia kepada NICA. Karena itu, NICA kemudian ikut masuk bersama pasukan Sekutu.
Secara resmi, Sekutu memiliki tugas yang berbeda dari kepentingan Belanda. Namun, kehadiran NICA membuat kedua kepentingan tersebut bertemu di Indonesia.
Situasi tersebut akhirnya menimbulkan kecurigaan dari pemerintah dan masyarakat Indonesia. Rakyat menyadari bahwa apabila Belanda berhasil membangun kembali pemerintahan kolonial, kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan akan menghadapi ancaman serius.
Belanda Berusaha Memecah Persatuan Indonesia
Selain menggunakan kekuatan militer, Belanda juga menjalankan strategi politik untuk mendapatkan kembali pengaruhnya.
Salah satu strategi yang dilakukan adalah membentuk negara negara bagian atau negara yang berada dalam pengaruh Belanda. Strategi tersebut berkaitan dengan politik federal yang dikembangkan oleh Hubertus Johannes van Mook.
Tujuan pembentukan negara negara bagian adalah mengurangi kekuatan Republik Indonesia. Jika Indonesia terpecah menjadi berbagai wilayah dengan pemerintahan masing masing, posisi Republik Indonesia akan menjadi lebih lemah.
Kompas mencatat bahwa pembentukan negara boneka merupakan salah satu strategi Belanda untuk memecah kedaulatan Republik Indonesia. Van Mook menggunakan politik federal untuk mengurangi kekuatan nasionalisme Indonesia dan membuka jalan bagi Belanda untuk kembali berkuasa.
Strategi ini menunjukkan bahwa usaha Belanda tidak hanya dilakukan melalui pertempuran. Diplomasi, politik, dan pembentukan struktur pemerintahan alternatif juga digunakan untuk mendapatkan kembali pengaruh di Indonesia.
Perlawanan Rakyat Muncul di Berbagai Daerah
Kedatangan Belanda bersama Sekutu tidak diterima begitu saja oleh masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah muncul perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan.
Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Pertempuran Surabaya. Pasukan Sekutu tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945 dengan tugas resmi melucuti tentara Jepang dan mengurus tawanan perang.
Namun, kedatangan NICA bersama pasukan Inggris membuat rakyat Surabaya khawatir bahwa Belanda akan kembali menguasai Indonesia.
Ketegangan semakin meningkat hingga terjadi berbagai bentrokan. Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi Pertempuran 10 November 1945 yang menjadi salah satu peristiwa terbesar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Perlawanan juga terjadi di berbagai wilayah lain, seperti Ambarawa, Medan, dan Bandung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keinginan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia mendapat penolakan luas dari masyarakat.
Belanda Kemudian Menggunakan Kekuatan Militer
Ketika usaha politik dan diplomasi tidak langsung menghasilkan penguasaan penuh atas Indonesia, Belanda juga menggunakan kekuatan militer.
Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Operasi tersebut menyasar sejumlah wilayah penting di Jawa dan Sumatra. Belanda menyebut operasi tersebut sebagai aksi polisionil, tetapi bagi Republik Indonesia, tindakan tersebut merupakan agresi terhadap negara yang telah merdeka.
Belanda kemudian kembali melancarkan Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Salah satu sasaran utamanya adalah Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia.
Serangkaian operasi militer tersebut memperlihatkan bahwa Belanda masih berusaha mempertahankan ambisi untuk menguasai Indonesia.
Arsip Nasional Republik Indonesia juga mencatat bahwa TNI lahir dan berkembang dalam suasana perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda yang berusaha kembali menjajah Indonesia.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Keinginan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia menyebabkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan berlangsung selama beberapa tahun setelah Proklamasi.
Bangsa Indonesia harus menghadapi berbagai pertempuran sekaligus menjalankan perjuangan diplomasi. Rakyat dan tentara bekerja sama mempertahankan wilayah Republik Indonesia dari berbagai serangan.
Konflik tersebut juga menyebabkan banyak korban jiwa dan kerugian material. Selain itu, sejumlah wilayah Indonesia mengalami perubahan kondisi pemerintahan dan keamanan akibat masuknya kembali pasukan Belanda.
Di sisi lain, perjuangan Indonesia mendapatkan perhatian dari dunia internasional. Agresi Militer Belanda I, misalnya, mendapat reaksi dari negara lain dan kemudian dibawa ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa.
Perjuangan diplomasi dan militer tersebut akhirnya menjadi bagian penting dalam proses menuju pengakuan kedaulatan Indonesia.
Belanda Akhirnya Mengakui Kedaulatan Indonesia
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan akhirnya membawa Indonesia menuju pengakuan kedaulatan. Setelah melalui berbagai perundingan dan konflik, Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949.
Namun, persoalan mengenai tanggal kemerdekaan Indonesia kemudian tetap menjadi bagian dari sejarah hubungan Indonesia dan Belanda.
Belanda baru secara resmi mengakui bahwa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 pada 2005. Sebelumnya, Belanda menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi pada 27 Desember 1949.
Pengakuan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang hubungan kedua negara setelah masa kolonial.
Belanda ingin kembali menguasai Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 karena tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan masih menganggap wilayah tersebut sebagai bagian dari kekuasaannya.
Selain alasan politik, terdapat kepentingan ekonomi dan keinginan untuk mendapatkan kembali kendali atas sumber daya serta wilayah yang sebelumnya dikuasai Belanda.
Belanda kemudian memanfaatkan kedatangan pasukan Sekutu dengan membawa NICA untuk membangun kembali pemerintahan kolonial. Usaha tersebut mendapat perlawanan dari rakyat dan pemerintah Indonesia sehingga terjadi berbagai pertempuran serta perjuangan diplomasi.
Upaya Belanda untuk kembali berkuasa akhirnya tidak berhasil setelah Indonesia mempertahankan kemerdekaannya melalui perjuangan panjang hingga pengakuan kedaulatan pada 1949.
Amalia Febriyani (Magang)