Mentrans: Komoditas unggulan daerah perkuat swasembada pangan - ANTARA News Ambon, Maluku
Jakarta (ANTARA) - Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pengembangan komoditas unggulan sesuai potensi daerah dapat memperkuat swasembada pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Arahan Presiden sangat jelas, yaitu mewujudkan swasembada pangan. Beras tentu tetap menjadi komoditas utama, tetapi Indonesia juga memiliki banyak komoditas pangan lain yang potensinya sangat besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Iftitah dalam keterangan diterima di Jakarta, Selasa.
Pernyataan tersebut disampaikan Mentrans saat meninjau demplot pisang Edo Farm di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sebagai salah satu contoh pengembangan komoditas pisang bernilai ekonomi tinggi.
Menurut Iftitah, upaya mewujudkan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan menciptakan nilai tambah dari komoditas pertanian sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan petani.
“Ketahanan pangan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani. Kalau petaninya tidak sejahtera, ketahanan pangan tidak akan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menilai pisang menjadi salah satu komoditas yang memiliki prospek untuk dikembangkan karena permintaan pasar domestik maupun internasional terus meningkat, sementara potensi budidayanya tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan transmigrasi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi pisang nasional pada 2025 mencapai sekitar 9,82 juta ton, meningkat sekitar 6,02 persen dibandingkan produksi 2024 yang mencapai sekitar 9,26 juta ton. Pisang menjadi komoditas buah dengan produksi terbesar di Indonesia.
Menurut Iftitah, besarnya potensi produksi tersebut perlu diikuti pembangunan ekosistem usaha agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani dan masyarakat.
Menurut dia, pengembangan komoditas unggulan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi juga perlu didukung penguatan kelembagaan petani melalui koperasi, pengolahan hasil, penyimpanan, logistik, hingga kepastian pasar melalui kemitraan dengan off-taker.
“Kita ingin petani tidak hanya mampu menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga memiliki kepastian pasar. Ketika pasar terbuka, harga menjadi lebih baik, investasi ikut bergerak, pendapatan petani meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” ungkap dia.
Pengembangan komoditas unggulan juga menjadi bagian dari strategi pemerintah membangun kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Kementerian Transmigrasi tengah memetakan potensi komoditas unggulan di 45 kawasan transmigrasi prioritas nasional dalam RPJMN 2025–2029 sebagai dasar penyusunan kebijakan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Sebagai salah satu langkah awal, Kementerian Transmigrasi tengah menjajaki pengembangan sentra pisang di Lampung sebagai model pengembangan komoditas berbasis potensi daerah di kawasan transmigrasi.
Model tersebut diharapkan menjadi percontohan pengembangan komoditas yang mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi.
Selain itu, Kementerian Transmigrasi juga memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah daerah untuk memperkuat riset, inovasi, transfer teknologi, serta pengembangan komoditas unggulan berbasis potensi lokal.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pewarta: Aria Ananda
Uploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.