Merayakan manusia analog di dunia yang serba digital

Sabtu, 11 Juli 2026 11:11 WIB

Image Print

Dedi Ary Prasetya. Dosen Teknik Elektro UMS sekaligus pemerhati Literasi Digital. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - *Dedi Ary Prasetya

Setiap pagi, sebuah ritual yang seragam terjadi di miliaran kamar tidur di seluruh dunia. Sebelum kelopak mata sepenuhnya terbuka, tangan kita secara refleks meraba permukaan kasur, mencari sepotong benda persegi pipih berbahan kaca dan logam.

Ketika layar gawai menyala, ia langsung menyodorkan serangkaian instruksi kaku kepada kesadaran kita yang baru saja terbangun: Apakah Anda menyukai unggahan ini? Apakah Anda setuju dengan opini viral itu? Apakah Anda berada di kubu A atau kubu B?

Tanpa kita sadari, dalam beberapa detik pertama setelah terjaga, pikiran kita dipaksa masuk ke dalam cetakan digital yang kaku. Sebuah semesta yang fondasinya dibangun di atas prinsip biner: 0 atau 1, hitam atau putih, kawan atau lawan. Realitas kehidupan sejati yang tadinya membentang luas penuh warna, aroma, dan gradasi emosi yang samar seketika menyusut menjadi sederet kotak pilihan. Kita dipaksa untuk langsung berpihak, buru-buru menghakimi, dan menolak segala bentuk ketidakpastian.

Fenomena ini bukan lagi sekadar tentang perpindahan medium dari kertas ke layar, melainkan sebuah krisis eksistensial yang mendalam. Manusia, yang secara alami terlahir sebagai makhluk analog yang penuh nuansa, perlahan sedang mengalami domestikasi pikiran. Kita sedang diprogram ulang oleh teknologi yang kita ciptakan sendiri.

Di tengah dunia yang menuntut kepastian instan, ada urgensi yang mendesak bagi kita untuk berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan mulai merayakan kembali hakikat diri kita sebagai manusia analog. Sebab, di dalam area abu-abu nilai itulah letak pertahanan terakhir kemanusiaan kita.

Saat kedalaman rasa terperangkap dalam kotak hitam-putih algoritma

Untuk memahami mengapa kita menjadi begitu mudah tersulut amarah di dunia maya, kita harus menyadari bahwa gawai di genggaman kita didesain dengan satu tujuan utama: memodifikasi perhatian kita.

Dalam ekonomi digital, ketenangan dan kedalaman berpikir adalah musuh utama keuntungan bisnis. Seseorang yang merenung dengan tenang tidak akan menghasilkan klik, tidak akan berdebat di kolom komentar, dan tidak akan bertahan menatap layar hingga larut malam.

Oleh karena itu, algoritma dirancang untuk mengeksploitasi emosi primitif kita: kemarahan, ketakutan, dan ego kelompok. Kita disuapi narasi kaku "Kita vs Mereka" karena formula biner inilah yang paling cepat memicu dopamin. Kita dilatih oleh antarmuka yang serba instan—suka atau blokir, pro atau kontra—hingga tanpa sadar, cara kerja sirkuit saraf otak kita ikut berubah.

Ketika arus informasi membanjiri kita tanpa henti, otak yang lelah akan mengambil jalan pintas kognitif. Kita tidak lagi sudi memahami latar belakang yang rumit dari suatu masalah.

Kita langsung memakai label siap pakai: jika seseorang melakukan satu kesalahan, dia langsung dikategorikan sebagai "angka 0" (sempit, salah, jahat) tanpa ruang untuk diampuni. Manusia utuh yang kaya akan cerita, direduksi menjadi sekadar satu label digital tunggal demi memuaskan rasa superioritas moral kita.

Merangkul keraguan dan jeda sebagai benteng terakhir kemanusiaan

Menghadapi gempuran ini, menyadari bahwa kita adalah makhluk analog adalah sebuah bentuk penyelamatan diri. Komputer digital bekerja dengan prinsip kepastian absolut; jika bukan 0, maka harus 1. Namun, esensi dari kehidupan manusia justru membentang di wilayah-wilayah yang tidak pasti, samar, dan kontradiktif.

Apa yang oleh sistem digital dianggap sebagai "kerusakan sistem" (error), dalam kacamata kemanusiaan justru merupakan keindahan tertinggi kita.

Mari kita ingat kembali rasa ragu-ragu. Di dunia digital, ragu adalah kelemahan. Namun dalam realitas analog, keraguan adalah tanda bahwa nurani dan empati sedang bekerja keras. Kebijaksanaan manusia lahir karena kita memberi jeda untuk menimbang motif, perasaan, dan dampak dari tindakan kita.

Begitu pula dengan spektrum emosi kita. Rasa cinta, duka, atau rindu tidak pernah bersifat tunggal; mereka mengalir seperti gelombang kontinu yang campur aduk dan berlapis—sebuah kedalaman rasa yang selamanya akan gagal diterjemahkan oleh kode angka secanggih apapun.

Kreativitas dan kemampuan kita untuk memaafkan juga lahir dari sifat analog kita yang "bisa salah". Seni kehidupan tercipta ketika manusia mampu melihat keindahan di dalam ketidaksempurnaan dan menemukan jalan tengah di antara dua hal yang bertentangan.

Merayakan manusia analog berarti kita berani mengambil kembali hak kita untuk menjadi tidak sempurna. Berani untuk berjalan lambat di dunia yang serba instan. Berani untuk meletakkan gawai saat amarah mulai memuncak, lalu kembali ke dunia nyata untuk melihat sesama bukan sebagai avatar tanpa wajah, melainkan sebagai manusia utuh yang juga memiliki rapuh dan rindu yang sama.

Teknologi digital adalah alat yang luar biasa untuk membantu pekerjaan kita, tetapi ia tidak boleh menjadi cetak biru yang mendikte cara kita merasa. Tetap menjadi analog yang penuh nuansa dan empati di dunia yang serba digital adalah sebuah tindakan revolusioner untuk tetap menjadi manusia.

*Dosen Teknik Elektro UMS sekaligus pemerhati Literasi Digital

Oleh Aris Wasita

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.