Jakarta (ANTARA) - Marine Stewardship Council (MSC) mendukung kolaborasi lintas sektor  untuk mendorong potensi perikanan dan kekayaan kuliner lokal menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat global.

Hal itu disampaikan Program Director MSC Hirmen Syofyanto usai menjadi nara sumber pada forum Asia Food & Ecosystem (AFEC) Summit, rangkaian dari Jakarta International Investment, Trade, Tourism & SMEs Expo atau JITEX  2026 di Jakarta, Kamis.

Pada kesempatan itu Hirmen mengupas tema "Dari Laut Sehat hingga Pasar Berdaya Saing: Masa Depan Tuna Indonesia". 

Hadir juga  Plt Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Erwin Dwiyana, Ketua Umum HIPPINDO dan Ketua Umum ATTEC Budiharjo Iduansyah, Program Manager AP2HI Ilham Alhaq dan Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Perikanan Tiongkok Mr Guan Yibo. 

"Forum ini sangat strategis, mempertemukan berbagai pihak dan stakeholder, ada pemerintah, asosiasi, pelaku usaha serta mitra global untuk memberikan masukan untuk strategi dan rantai pasok perikanan berkelanjutan," kata Hirmen Syofyanto.

Asia Food & Ecosystem Summit mendorong perlunya kolaborasi dalam pengembangan potensi pangan Indonesia sehingga lebih berkualitas, berstandar serta kian berdaya saing di pasar global.

Pada kesempatan itu juga mengupas potensi perikanan laut Indonesia dengan membuka kemitraan internasional menjadi kunci untuk memperluas akses dan meningkatkan daya saing komoditas perikanan Indonesia.

Hirmen Syofyanto menyebutkan hal itu sejalan dengan misi program MSC untuk berkontribusi pada kesehatan lautan  dengan mengakui dan menghargai praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan. Kemudian mengedukasi pilihan orang saat membeli seafood serta bekerja sama dengan mitra untuk mewujudkan pasar seafood berbasis berkelanjutan.

MSC merupakan lembaga internasional yang mengembangkan standar perikanan tangkap berkelanjutan. Sertifikasi MSC diberikan kepada perikanan dengan menetapkan dan mempertahankan standar penangkapan ikan, sertifikasi perikanan, sertifikasi rantai pengawasan, lisensi ekolabel hingga produk sampai ke konsumen. 

Sertifikasi MSC kata Hirmen diberikan kepada perikanan yang mampu menunjukkan keberlanjutan stok ikan, dampak lingkungan yang minimal, dan sistem pengelolaan yang efektif. 

Selain itu juga menetapkan standar rantai pengawasan yang meliputi identifikasi, pemisahan dan memastikan produk bersertifikat dengan mencantumkan logo sertifikasi.

Lebih lanjut, Program Director MSC itu juga  menegaskan tingginya peningkatan ekspektasi yang mendorong konsumen untuk mencermati label dan sumber produk dengan lebih cermat.   

Selain itu terdapat peningkatan pemahaman terhadap label MSC sebagai penanda keberlanjutan laut atau ikan, dengan semakin banyak konsumen yang mengkaitkan label sertifikasi dengan kualitas ikan yang lebih baik. 

Ia menuturkan trend global terkait produk seafood antara lain  meningkatnya ekspekstasi terhadap environmental, social, dan governance (ESG), ritel menuntut bukti sumber bahan baku yang berkelanjutan, risiko rantai pasok akibat perubahan iklim, tuntutan ketelusuran semakin tinggi serta persyaratan semakin ketat untuk tata kelola perikanan. 

Seiring meningkatkan tuntutan pasar terhadap seafood berkelanjutan dan dapat ditelusuri, Indonesia perlu mengambil langkah penting untuk mempercepat perjalanannya menuju perikanan berkelanjutan yang diakui secara global. 

"Perlu dicermati bagaimana ketertelusuran produk seafood berkembang dalam lima tahun ke depan dimana kontribusinya tak hanya pada akses pasar tapi juga pengelolaan perikanan serta keberlanjutan ekosistem laut," kata Hirmen Syofyanto menambahkan.

Pewarta: Pewarta BPJ
Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.