Nezar menyoroti pengaruh algoritma dalam distribusi berita ke publik
Nezar menyoroti pengaruh algoritma dalam distribusi berita ke publik
Kamis, 10 September 2026 20:15 WIB
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria berbicara dalam acara Diskusi Panel Dewan Profesor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya di Jakarta Selatan, Kamis (10/09/2026). (ANTARA/HO-Kementerian Komunikasi dan Digital)
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti perubahan distribusi berita kepada publik akibat perkembangan platform media sosial, yang dengan algoritmanya menentukan konten yang dianggap paling relevan dengan setiap pengguna.
"Saat ini media kehilangan audiens, yang mengontrol audiens adalah platform," katanya dalam acara diskusi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya di Jakarta, Kamis.
"Platform media sosial berkembang jauh lebih cepat, lebih dalam, lebih agresif, sehingga menggeser pola hubungan antara media konvensional dan media tradisional dengan audiens," kata Nezar.
Platform digital menggunakan sistem untuk mengatur, memilih, dan menyarankan konten kepada pengguna berdasarkan faktor seperti interaksi pengguna, relevansi konten, hubungan pengguna dengan akun tertentu, serta karakteristik unggahan pengguna.
"Jadi, semua yang kita berikan tanda likes itu kemudian dicatat dalam machine learning yang dipakai oleh media sosial. Jadi apa yang kita suka akan selalu datang kepada kita, itulah yang disebut dengan echo chamber," Nezar menjelaskan.
Dia mengutip Reuters Institute Digital News Report 2026, yang melibatkan lebih dari 100 ribu responden di 48 negara, untuk menunjukkan perubahan perilaku publik dalam mengakses informasi.
Menurut laporan itu, platform media sosial dan platform video telah menjadi sumber berita yang lebih banyak diakses daripada televisi maupun situs berita resmi di 30 negara.
Selain itu, hanya kurang dari empat dari 10 responden yang menyatakan percaya terhadap berita.
Kondisinya semakin kompleks dengan penggunaan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), termasuk dalam produksi berita.
Nezar mengingatkan bahwa manipulasi data dapat membuat sistem AI menghasilkan keluaran yang keliru.
Dia menekankan pentingnya menjaga integritas dalam menyampaikan informasi pada masa perkembangan cepat teknologi.
Nezar menyampaikan bahwa pemerintah telah menjalankan langkah-langkah untuk mengupayakan masyarakat bisa mengakses informasi yang berkualitas.
Pemerintah antara lain telah menyiapkan pedoman etika AI, termasuk pedoman penggunaan AI dalam jurnalistik yang dirumuskan oleh Dewan Pers, serta peta jalan kecerdasan artifisial Indonesia untuk lima tahun ke depan.
Pewarta : Farhan Arda Nugraha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.