Depok (ANTARA) - Pakar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) yang juga Ketua Klaster Riset Acute and Critical Care, Dr Masfuri mengingatkan masyarakat agar memahami gejala sejak dini penyakit jantung.

"Sebagian besar kasus serangan jantung sebenarnya tidak terjadi tanpa peringatan," kata Masfuri di kampus UI Depok, Kamis.

Menurutnya, masyarakat sering kali keliru menafsirkan gejala awal, sehingga kesempatan memperoleh pertolongan medis menjadi terlambat.

Masfuri memaparkan bahwa gejala khas serangan jantung yang mendera dapat berupa nyeri dada sebelah kiri yang terasa seperti tertindih beban berat, rasa terbakar di ulu hati yang menjalar hingga ke rahang, bahu, atau lengan, keringat dingin, serta sesak napas yang muncul secara tiba-tiba.

 Baca juga: Mengenal dampak minuman kekinian bagi kesehatan

Namun, lanjut dia, banyak orang menganggap gejala tersebut hanya sebagai masuk angin, gangguan lambung (maag), atau kelelahan akibat aktivitas sehari-hari (burnout). Padahal, penundaan penanganan selama beberapa menit saja dapat berdampak besar terhadap peluang keselamatan pasien.

“Sebagian besar pasien sebenarnya telah mengalami gejala peringatan sebelum serangan jantung terjadi. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa nyeri dada yang tidak biasa, sesak napas mendadak atau keringat dingin bukanlah kondisi yang boleh disepelekan. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang jaringan jantung dapat diselamatkan,” ujar Masfuri.

Dalam dunia kegawatdaruratan jantung dikenal prinsip time saving is life saving. Masfuri menjelaskan bahwa terdapat periode emas atau golden hour dalam rentang 90 hingga 120 menit pertama sejak gejala muncul.

Pada periode tersebut, tindakan medis yang cepat dapat membantu mencegah kerusakan permanen pada otot jantung dan meningkatkan peluang hidup pasien.

Baca juga: Pakar UI berikan solusi kesehatan mental korban kapal tenggelam

Jika menemukan orang dengan gejala serangan jantung, masyarakat dianjurkan untuk menghentikan seluruh aktivitas korban, memosisikannya dalam keadaan duduk bersandar, serta segera menghubungi layanan gawat darurat atau membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat.

Apabila korban kehilangan kesadaran dan tidak bernapas normal, tindakan pertolongan pertama menjadi sangat krusial.

Masfuri mengimbau masyarakat untuk melakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau Hands-Only Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) dengan menekan bagian tengah dada sebanyak 100–120 kali per menit.

Jika tersedia, Automated External Defibrillator (AED) dapat digunakan sesuai petunjuk suara yang terdapat pada perangkat. Penelitian menunjukkan bahwa tindakan CPR dini oleh masyarakat awam dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup korban hingga dua sampai tiga kali lipat sebelum tenaga medis tiba.

Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.