Pakar menyarankan rekonstruksi Kampung Adat Sade bertumpu tiga pilar
Mataram (ANTARA) - Pakar komunikasi pembangunan Universitas Mataram (Unram) Agus Purbathin Hadi menyarankan rekonstruksi Kampung Adat Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) pascakebakaran bertumpu pada tiga pilar utama.
"Desa Adat Sade bukan sekadar kumpulan bangunan tradisional. Di dalamnya terdapat memori kolektif, hubungan kekerabatan, nilai gotong royong, sistem adat, pengetahuan lokal, dan identitas masyarakat Sasak," ujarnya di Mataram, Jumat.
Agus mengatakan tiga pilar utama rekonstruksi adalah pemulihan fisik berbasis nilai budaya, penguatan kelembagaan adat, dan regenerasi budaya generasi muda.
Ia menegaskan pembangunan kembali Kampung Adat Sade tidak cukup hanya berorientasi terhadap pemulihan bangunan yang terdampak, tetapi juga harus memastikan nilai budaya dan identitas masyarakat Sasak tetap terjaga dalam proses tersebut.
"Pelestarian budaya dan keselamatan tidak boleh dipertentangkan. Kita bisa mempertahankan bentuk tradisional sekaligus meningkatkan sistem proteksi kebakaran, tata ruang, dan kesiapsiagaan masyarakat," kata Agus.
Lebih lanjut dia menjelaskan pilar pertama berupa pemulihan fisik berbasis nilai budaya. Pembangunan kembali rumah adat, ruang sosial, masjid, museum budaya, dan fasilitas masyarakat perlu mempertahankan karakter asli kawasan Sade, namun tetap disertai penguatan aspek keamanan untuk mengantisipasi risiko bencana serupa.
Menurut dia, rencana mempertahankan bentuk asli kawasan dapat berjalan bersamaan dengan penerapan sistem perlindungan terhadap risiko kebakaran. Dengan demikian, upaya pelestarian karakter budaya tidak harus mengesampingkan aspek keselamatan masyarakat.
Pilar kedua adalah penguatan kelembagaan adat. Rekonstruksi membutuhkan kelembagaan yang mampu menjembatani pemerintah dengan masyarakat sehingga proses pemulihan dapat melibatkan berbagai unsur yang berada di kawasan adat tersebut.
"Kelembagaan adat harus menjadi penjaga nilai budaya. Pemerintah membangun fasilitas, tetapi masyarakat adat menjaga maknanya," papar Agus.
Forum bersama, imbuh dia, dapat melibatkan pemangku adat, tokoh agama, pemerintah desa, tokoh perempuan, pemuda, serta masyarakat yang terdampak kebakaran.
Baca juga: Unram rancang sistem mitigasi kebakaran saat rekonstruksi Kampung Sade
Keterlibatan berbagai unsur tersebut penting agar keputusan terkait rekonstruksi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan dan nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Pilar ketiga adalah regenerasi budaya generasi muda. Menurut Agus, pemulihan Sade harus melihat keberlanjutan budaya dalam jangka panjang dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi generasi muda untuk terlibat dalam proses pelestarian.
"Budaya yang tidak diwariskan akan berhenti menjadi kenangan. Karena itu, investasi terbesar dalam pemulihan Sade adalah investasi pada generasi muda," ucap Agus.
Regenerasi tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan budaya, pelatihan tenun, dokumentasi sejarah, digitalisasi budaya, serta pengembangan wisata berbasis komunitas. Pelibatan generasi muda diharapkan membuat pengetahuan dan nilai budaya Sade tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca juga: Kampung Adat Ende menjadi alternatif wisata budaya pascakebakaran Sade
Agus menilai musibah kebakaran dapat menjadi momentum untuk membangun model pemulihan kawasan budaya yang lebih kuat.
Kampung Adat Sade berpotensi menjadi contoh pemulihan kawasan adat dengan menempatkan masyarakat sebagai pemilik budaya, adat sebagai penjaga nilai, pemerintah sebagai fasilitator, teknologi sebagai pendukung keselamatan, dan wisata sebagai penguat ekonomi masyarakat.
Pewarta : Sugiharto Purnama dan Septi Dwi Cahyani
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026