Pemkab Magetan optimalkan fungsi 125 sumur pompa untuk irigasi sawah
Untuk suplai air irigasi lahan sawah, ada sebanyak 125 sumur (JIAT) kewenangan Pemkab Magetan yang disiapkan tersebar di sejumlah wilayah Magetan
Magetan (ANTARA) - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Magetan, Jawa Timur mengoptimalkan fungsi sebanyak 125 sumur pompa irigasi atau Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) untuk mengaliri sawah para petani selama musim kemarau berlangsung.
"Untuk suplai air irigasi lahan sawah, ada sebanyak 125 sumur (JIAT) kewenangan Pemkab Magetan yang disiapkan tersebar di sejumlah wilayah Magetan," ujar Kepala Dinas PUPR Kabupaten Magetan Muhtar Wakid di Magetan, Selasa.
Menurutnya, pemanfaatan sumur JIAT sebagai sumber air alternatif dinilai membantu petani mempertahankan aktivitas pertanian di tengah keterbatasan air. Bahkan, di sejumlah wilayah, petani masih dapat menanam padi meski saat musim kemarau berlangsung.
Namun, kondisi ketersediaan air tidak sama di setiap kondisi wilayah. Daerah yang memiliki pasokan air terbatas diarahkan untuk menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi sumber daya air.
Karenanya, ia menilai sumur-sumur tersebut menjadi andalan saat musim kemarau di saat sejumlah sumber air lain mulai menyusut, di antaranya Telaga Sarangan, Bendungan Gonggang, sejumlah embung.
Selain 125 sumur kewenangan kabupaten, terdapat juga 110 sumur irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah pusat yang juga sebagai sumber air saat kemarau melanda.
Ia menjelaskan infrastruktur sumber daya air yang dikelola Dinas PUPR Magetan mencakup sekitar 30 embung, serta dua sumber tampungan air utama, yakni Telaga Sarangan dan Bendung Gonggang. Telaga Sarangan memiliki daya tampung sekitar 3 juta meter kubik, sedangkan Bendung Gonggang sekitar 2 juta meter kubik.
Seluruh infrastruktur tersebut dimanfaatkan untuk irigasi sekitar 27 ribu hektare luas baku sawah di Kabupaten Magetan.
Dengan dukungan jaringan irigasi, embung, bendung, telaga, serta sumur, PUPR Magetan berupaya menjaga distribusi air tetap berjalan optimal selama musim kemarau.
Meski pasokan air tercukupi, pihaknya tetap mengimbau agar petani Magetan melakukan pengaturan pola tanam sebagai upaya strategi menjaga ketersediaan air yang terbatas agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan menekan risiko gagal panen.
Melalui upaya-upaya tersebut, ia berharap ketahanan pangan di Kabupaten Magetan dapat terkendali sehingga target produksi padi Magetan tahun 2026 diproyeksikan bisa melebihi dari tahun 2025.
Data dinas setempat mencatat, produksi padi Magetan tahun 2025 mencapai sekitar 308.221 ton gabah kering giling (GKG) dengan luas lahan panen tanaman mencapai 50.411 hektare atau rata-rata 6,1 ton per hektare.
Baca juga: BPBD Magetan petakan wilayah berpotensi karhutla saat kemarau 2026
Baca juga: Ratusan hektare sawah Magetan alami kekeringan, terancam gagal panen
Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.