Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Pengamat ekonomi Universitas Jember (Unej) Adhitya Wardhono, PhD menilai pergantian Menteri Keuangan yang dilakukan di tengah proses pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027, merupakan momentum untuk memperkuat kredibilitas fiskal.

"Pemilihan Prof. Suahasil Nazara tentu memberikan sinyal bahwa pemerintah ingin menjaga kesinambungan kebijakan fiskal," katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa.

Ia mengatakan, pada RAPBN 2027 menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar enam persen dengan defisit sekitar 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang berarti pemerintah ingin tetap ekspansif, tetapi dengan menjaga disiplin fiskal.

Menurut peneliti dan pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej itu, tantangan terbesar bagi Menteri Keuangan Suahasil Nazara yaitu memastikan setiap rupiah APBN benar-benar menghasilkan dampak ekonomi yang besar.

Faktor penting dalam pergantian Menteri Keuangan, lanjutnya, adalah bagaimana transisi tersebut dilakukan dan bagaimana bisa memberikan sinyal kebijakan ke depan.

Menurutnya, pasar sesungguhnya tidak hanya melihat siapa figur Menteri Keuangan, namun juga melihat apakah arah kebijakan fiskal tetap kredibel, transparan, dan konsisten.

"Beliau bukan figur baru di Kementerian Keuangan karena memiliki pengalaman panjang sebagai Wakil Menteri Keuangan dan sebelumnya terlibat dalam perumusan kebijakan fiskal," ujarnya.

Menurutnya, Menteri Keuangan adalah salah satu figur kunci yang menjaga kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi Indonesia. Ia juga melihat bahwa pergantian tersebut tidak serta merta menggambarkan adanya gangguan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. 

Ia menambahkan, ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang relatif resilien, tetapi bukan berarti tanpa tantangan. Menurutnya, ruang kebijakan ke depan semakin kompleks karena pemerintah harus menyeimbangkan antara mendorong pertumbuhan dan menjaga kesehatan APBN.

"Tantangannya adalah pemerintah memiliki agenda pembangunan yang cukup besar, di sisi lain, tekanan global masih tinggi, seperti volatilitas nilai tukar, suku bunga global, dan ketidakpastian geopolitik," katanya.

Ia menilai APBN saat ini menjadi mesin penting, dan tidak hanya sebagai instrumen pembiayaan semata, namun juga sebagai jangkar kepercayaan ekonomi.

Menurutnya, Menteri Keuangan memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar, dan baru harus segera memberikan kepastian mengenai komitmen terhadap disiplin fiskal, kualitas belanja pemerintah, dan strategi meningkatkan penerimaan negara tanpa menghambat dunia usaha. 

"Dari itu, tantangan terbesar bagaimana menjaga policy credibility agar pelaku ekonomi tetap percaya bahwa arah pengelolaan keuangan negara tetap prudent," katanya.

Menkeu baru, lanjutnya, juga perlu segera membangun komunikasi kebijakan yang kuat kepada pasar dan masyarakat. Menurutnya, dalam ekonomi modern, persepsi memiliki peran besar, di mana kebijakan yang baik tetapi tidak dikomunikasikan dengan jelas dapat menciptakan ketidakpastian.

Dalam kesempatan itu, ia menilai ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh Menkeu Suahasil, yakni memberikan sinyal bahwa pemerintah tetap menjaga prinsip kehati-hatian fiskal.

"Itu penting karena Indonesia sedang berada pada fase pembangunan yang membutuhkan belanja besar, tetapi tetap harus menjaga keberlanjutan fiskal," katanya.

Kemudian, memastikan koordinasi erat dengan Bank Indonesia dan otoritas lainnya, mengingat stabilitas ekonomi tidak bisa dijaga oleh satu institusi saja.

"Kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan harus bergerak dalam arah yang sama," tambahnya.

Ketiga, lanjutnya, mendorong transformasi ekonomi yang lebih produktif, karena Indonesia tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan melalui konsumsi, melainkan perlu meningkatkan investasi, produktivitas, industrialisasi, dan daya saing.

"Jadi, pesan pentingnya adalah jangan hanya menjaga APBN dari sisi angka, tetapi menjaga kualitas APBN sebagai instrumen pembangunan," katanya.

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.