Penyebab, Gejala dan Pengobatan Penyakit Kulit Pemfigus - Primaya Hospital
Penyakit kulit Pemfigus merupakan salah satu kondisi langka dimana kulit dan mulut melepuh. Kondisi ini cukup berlangsung lama sehingga menimbulkan berbagai komplikasi jika tidak diobati segera. Bahkan akan menjadi penyakit kulit yang semakin serius. Penyakit kulit sering kali dianggap sebagai masalah biasa yang bisa sembuh dengan krim.
Namun, bagaimana jika lepuhan muncul secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas dan sulit sembuh? Dalam dunia medis, kondisi ini merujuk pada Pemfigus. Simak penjelasan lengkap mengenai gejala, penyebab, hingga prosedur pengobatannya dalam artikel berikut.
Mengenal Penyakit Kulit Pemfigus
Pemfigus, khususnya jenis Pemfigus Vulgaris, adalah penyakit autoimun langka yang menyerang kulit dan membran mukosa. Kondisi ini diperkirakan hanya terjadi pada 1 hingga 5 orang per satu juta penduduk setiap tahunnya. Masalah kesehatan ini terjadi ketika sistem imun salah mengenali sel tubuh sehat dan menyerang protein desmoglein, yaitu “lem” yang merekatkan sel-sel kulit.
Akibat rusaknya ikatan antar sel ini (akantolisis), kulit menjadi melepuh, muncul ruam, dan luka terbuka. Selain kulit luar, penyakit ini juga menyerang membran mukosa di area:
- Mulut dan tenggorokan
- Hidung dan mata
- Organ genital
Berbeda dengan lepuhan luka bakar, lepuhan pada pemfigus terjadi di lapisan epidermis yang sangat dangkal. Sehingga teksturnya sangat rapuh, mudah pecah, dan meninggalkan luka terbuka yang nyeri.
Gejala Pemfigus
Penyakit kulit Pemfigus menjadi salah satu kondisi yang dapat menimbulkan luka lepuh pada bagian kulit dan membran mukosa. Daerah membran mukosa yang biasa diserang yaitu bagian mulut dan kemaluan. Biasanya terjadi mulai dari hitungan minggu hingga bulan. Luka yang muncul berbentuk blister atau kantong lepuhan berisi cairan.
Pemfigus terjadi akibat sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang sel kulit sehat (penyakit autoimun). Hingga kini belum diketahui secara pasti pemicu utamanya, namun diduga terkait dengan penggunaan obat-obatan tertentu:
- Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS).
- Obat darah tinggi golongan ACE inhibitor (contoh: captopril).
- Antibiotik tertentu seperti rifampicin dan golongan sefalosporin.
Faktor risiko lainnya meliputi luka fisik (tergores/terbakar), riwayat penyakit autoimun lain (myasthenia gravis), infeksi, usia 50-60 tahun, serta paparan sinar UV berlebih.
Penyebab Pemfigus
Pemfigus terjadi akibat sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang terbalik menyerang sel kulit sehat. Menurut Cermin Dunia Kedokteran, kondisi ini sering disebut dengan penyakit autoimun. Sebenarnya belum diketahui secara pasti apa yang mengakibatkan penyakit ini muncul. Namun diduga akibat penggunaan obat-obatan berikut ini:
- Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS)
- Rifampin atau rifampicin
- Obat darah tinggi golongan ACE inhibitor, seperti captopril
- Antibiotik, seperti golongan sefalosporin.
Selain itu, ada juga beberapa faktor lain yang jug meningkatkan risiko penyakit tersebut muncul yaitu luka di kulit akibat tergores, terbakar, atau terkena gigitan serangga.
- Penyakit autoimun lain, seperti myasthenia gravis dan thymoma
- Infeksi
- Usia 50-60 tahun
- Paparan sinar ultraviolet berlebih
- Stres.
Prosedur Diagnosa Klinis
- Diagnosa dokter tidak langsung mengatakan jika penyakit tersebut adalah Pemfigus. Namun tahap awal dokter akan melakukan tes wawancara medis untuk mengetahui keluhan dan riwayat kesehatan setiap pasien.
- Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik.
- Pasien diarahkan untuk melakukan pemeriksan tambahan guna membantu mengkonfirmasi diagnosis. Beberapa pemeriksaan tersebut mulai dari biopsi kulit, endoskopi untuk memeriksa tenggorokan dan tes darah untuk melihat tingkat antibodi dan infeksi.
- Seperti yang dijelaskan oleh Prof. Marcel F. Jonkman, MD, PhD, seorang ahli dermatologi terkemuka dari University Medical Center Groningen yang spesialis dalam penyakit lepuh autoimun. Penyakit lepuhan kulit akan didiagnosa dokter dengan menguji kekuatan kulit. Caranya yaitu dengan menggosoknya dengan kuat, mengambil sampel darah dan melakukan biopsi kulit.
Pengobatan Pemfigus
Tujuannya adalah mengurangi pembentukan lepuh, mencegah infeksi, dan menyembuhkan luka. Pengobatan ini disesuaikan dengan tingkat keparahan pasien.
Penanganan Darurat
Melibatkan pemberian kortikosteroid dosis tinggi untuk menghentikan lepuhan baru. Jika diperlukan, prosedur plasmaferesis (penggantian plasma darah) dilakukan untuk membuang antibodi yang menyerang kulit.
Jangka Panjang
Karena sulit sembuh total, pengobatan jangka panjang fokus pada pencegahan kekambuhan. Dokter biasanya meresepkan imunosupresan seperti rituximab, mycophenolate mofetil, atau azathioprine, serta terapi topikal berupa steroid oles.
Komplikasi Penyakit Kulit Pemfigus
Pemfigus bisa menimbulkan lepuhan kulit yang terasa menyakitkan. Apabila tidak segera ditangani akan menimbulkan luka yang melebar. Adapun komplikasi yang dapat mempengaruhi kesehatan tubuh akibat penyakit ini antara lain:
- Infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri, jamur, ataupun virus yang dapat menyebabkan sepsis.
- Penurunan berat badan dan malnutrisi karena kesulitan makan.
- Penyakit gusi dan gigi berlubang.
- Penurunan kualitas hubungan seksual.
- Gangguan psikologis.
Pencegahan Pemfigus
Pencegahan Pemfigus sebenarnya tidak bisa. Namun bisa dilakukan untuk mencegah kambuhnya penyakit dengan melakukan perawatan jangka panjang. Bahkan melakukan kontrol rutin ke dokter. Pemfigus yang tidak ditangani dapat menyebabkan infeksi sekunder (sepsis), malnutrisi karena kesulitan makan, hingga gangguan psikologis. Meski tidak bisa dicegah secara total, pasien dapat mencegah kambuhnya penyakit dengan kontrol rutin dan perawatan luka yang tepat.
Kapan Harus ke Dokter
Jangan menunda untuk berkonsultasi dengan dokter jika menemukan:
- Lepuhan di mulut yang menetap lebih dari dua minggu.
- Lepuhan yang menyebar dengan cepat di area tubuh.
- Tanda-tanda infeksi pada luka (nanah, bau tidak sedap, atau demam).
Semakin cepat diagnosa dilakukan, maka membantu mengatasi gejala hingga penanganan untuk mencegah penyakit kulit Pemfigus. Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi edukasi dan bukan merupakan pengganti diagnosis, saran, atau pengobatan medis profesional. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan dengan dokter spesialis kulit dan kelamin.
Referensi:
- https://jamanetwork.com/journals/jamadermatology/fullarticle/1879985. Diakses 17 Maret 2026
- Efek Samping Steroid Sistemik pada Terapi Pemvigus Vulgaris. https://cdkjournal.com/index.php/cdk/article/view/117. Diakses 17 Maret 2026
- Pemfigus Vulgaris. https://prin.or.id/index.php/JURRIKES/article/view/1758. Diakses 17 Maret 2026
- Pemphigus Vulgaris: Present and Future Therapeutic Strategies. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8824520/. Diakses 17 Maret 2026
Share to :
