Mereka tak pernah lelah bernyanyi memdampingi tim kesayangannya berlaga di atas lapangan hijau. Bahkan tak sedikit dari kelompok suporter ini menempuh jarak puluhan ribu kilometer demi tetap berada di samping tim kesayangannya bertanding.

Namun gegap gempita nyanyian suporter di babak penyisihan ini bisa berbanding terbalik di babak semifinal nanti. Bukan tanpa alasan, sebab memang panitia Piala Presiden mengambil keputusan besar dengan menggelar babak semifinal dan final nanti di Pulau Dewata, Bali.

Tentu perpindahan venue ini sempat menimbulkan gejolak. Sebab mengapa harus dipindah lokasi babak semifinal dan final?

Selain itu panitia juga tidak melakukan penjualan tiket pertandingan nanti. Apakah babak semifinal dan final akan tetap ramai, atau justru bagaikan sayur tanpa garam yang akan terasa hambar?

Bagi Ketua Organizing Committee Piala Presiden 2026, Tsamara Amany, keputusan tersebut bukan semata soal lokasi pertandingan, melainkan tentang menjaga keselamatan manusia di atas segala kepentingan.

https://akurat.co/bola/878768/piala-presiden-persija-hajar-psms-4-1-jaga-mimpi-ke-semifinal

"Saya kira, nomor satu, tentu saja kita memikirkan dari segi keamanan. Bagi kami di kepanitiaan, nomor satu adalah keselamatan. Keselamatan penonton, keselamatan suporter. Saya, Pak Arya, dan seluruh tim kepanitiaan, kami selalu beranggapan bahwa menonton sepakbola itu harus aman, harus nyaman, harus tenang, dan harus bahagia," kata Tsamara.

Pesan itu menjadi benang merah penyelenggaraan Piala Presiden tahun ini. Sepakbola, menurut panitia, seharusnya menjadi ruang yang mempertemukan orang-orang dalam kegembiraan, bukan menghadirkan kekhawatiran.

Karena itu, setiap keputusan penting, termasuk pemilihan venue semifinal, disebut tidak diambil secara tergesa-gesa. Panitia menyerahkan keputusan tersebut kepada Ketua Steering Committee setelah mempertimbangkan berbagai aspek, terutama keamanan.

Tsamara menjelaskan ia tidak tutup mata akan antusiasme suporter. Ia tidak meragukan bahwa kecintaan terhadap klub mampu menghidupkan stadion sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat di sekitar arena pertandingan.

"Iya, saya kira kita apresiasi. Karena berarti sebenarnya suporter itu sangat mencintai klubnya, luar biasa antusiasmenya. Dan tentu saja kami sebagai panitia berterima kasih sekali atas antusiasme tersebut. Dukungan suporter luar biasa. Kita lihat di Bandung penontonnya selalu penuh. Di Surabaya penontonnya selalu penuh. Mereka memberikan dampak ekonomi yang luar biasa sekali bagi masyarakat kita," ujar Tsamara.

Menurutnya, semarak turnamen bukan hanya dirasakan oleh klub dan suporter. Pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga masyarakat sekitar stadion ikut merasakan manfaat dari ramainya pertandingan.

Namun, tingginya antusiasme itu tidak membuat panitia mengabaikan risiko. Koordinasi dengan kepolisian, TNI, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan terus dilakukan agar pesta sepakbola tetap berlangsung tanpa mengorbankan keselamatan.

"Jangan sampai karena sepakbola begitu kita mengorbankan orang. Jangan sampai karena sepakbola ada hal-hal yang tidak perlu terjadi. Jadi, tentu pastinya dalam mengambil keputusan, itu sudah melalui pertimbangan yang matang. Keselamatan dan keamanan suporter nomor satu," tegas Tsamara.

Komitmen terhadap keterbukaan juga terlihat dari penjelasan panitia mengenai venue semifinal. Anggota Steering Committee Piala Presiden 2026, Arya Sinulingga, menegaskan sejak awal tidak pernah ada janji bahwa semifinal dan final akan digelar di kota tertentu.

Ia mengatakan seluruh peserta telah mengetahui bahwa status tuan rumah hanya berlaku pada fase penyisihan grup. Bahkan informasi tersebut juga disampaikan kepada pelaku UMKM yang terlibat selama turnamen.

"Justru karena kita tahu. Maka dari itu, sejak awal kami sudah sampaikan ke klub, bahkan di pengumuman kita, bahwa tuan rumah itu hanya di penyisihan grup. Sampai di akhir tidak ada di mana semifinal dan final. Tidak ada," kata Arya.

Panitia juga memilih tidak menjual tiket semifinal kepada suporter. Sebagai gantinya, masyarakat diajak menikmati pertandingan melalui kegiatan nonton bareng di berbagai daerah agar atmosfer kompetisi tetap terasa tanpa menimbulkan persoalan keamanan.

Di lapangan, empat klub Indonesia memastikan tempat di semifinal setelah menyingkirkan wakil-wakil ASEAN. Bagi Arya, hasil tersebut menjadi gambaran bahwa kualitas kompetisi domestik terus berkembang dan layak menjadi tontonan yang membanggakan.

Pada akhirnya, Piala Presiden 2026 bukan hanya menyajikan persaingan menuju gelar juara. Turnamen ini juga menghadirkan pesan bahwa kemenangan terbesar bukan sekadar hasil di papan skor, melainkan ketika ribuan suporter dapat menikmati sepakbola dengan aman, pulang dengan senyum, dan kembali bertemu di stadion pada pertandingan berikutnya.