Polda Gorontalo identifikasi kerangka manusia diduga remaja hilang - ANTARA News Gorontalo
Gorontalo (ANTARA) - Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Gorontalo, mulai melakukan pemeriksaan intensif terhadap temuan kerangka manusia yang diduga sebagai jasad seorang perempuan berinisial E alias Echa, yang sebelumnya dilaporkan hilang.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda Gorontalo Ajun Komisaris Besar Polisi Dhiwangkoro Aji Kadarmo di Gorontalo, Minggu mengatakan sebelumnya pihak kedokteran forensik telah menerima kantong jenazah berisi kerangka yang diduga manusia pada Jumat (25/9).
Pemeriksaan forensik kemudian dilakukan pada Sabtu, mulai pukul 14.10 Wita sampai pukul 16.00 Wita, di ruang instalasi kedokteran forensik Rumah Sakit Bhayangkara Gorontalo, melibatkan 12 orang tim gabungan.
Dari hasil pemeriksaan awal, kata dia, tim forensik memastikan temuan tersebut merupakan satu kerangka manusia utuh, dengan kondisi tidak lengkap dan telah mengalami proses pembusukan tingkat lanjut atau penulangan.
Ia menjelaskan proses identifikasi dilakukan secara ilmiah menggunakan metode kedokteran forensik, berdasarkan surat permohonan fisik dari kepolisian setempat, namun metode identifikasi sidik jari dipastikan tidak dapat dilakukan.
Menurutnya alasan beberapa metode tidak dapat dilakukan, karena tim forensik tidak menemukan adanya bagian jari pada kerangka manusia tersebut.
Meski demikian, tim forensik berhasil mengidentifikasi parameter umum dari kerangka tersebut, dimana hasil pemeriksaan sementara menunjukkan kerangka manusia itu berjenis kelamin perempuan, berasal dari ras Mongoloid, dengan estimasi usia berkisar antara 17 sampai 25 tahun.
Berkaitan dengan hilangnya perempuan bernama Echa pada bulan Juli 2026, pihak kepolisian bergerak cepat untuk mencocokkan data, dimana pada Sabtu malam kedua orang tua dari perempuan tersebut dijadwalkan menjalani pengambilan sampel DNA sebagai pembanding.
Hasil pemeriksaan DNA diperkirakan selesai kurang lebih tiga sampai empat minggu, dimana dari hasil itulah akan didapatkan identitas yang pasti secara ilmiah.
Ia mengatakan kerangka yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP), berada dalam kondisi tidak lengkap, bahkan informasi dari penyidik bahwa proses pencarian kerangka dan sejumlah barang yang diduga kuat milik perempuan itu, keseluruhannya ditemukan tersebar di 14 titik.
Menurutnya secara etis medis, Biddokkes belum dapat menyebutkan detail bagian tubuh mana saja yang telah hilang, namun seluruh data dan hasil autopsi sementara, telah diserahkan sepenuhnya kepada tim penyidik, untuk keperluan penyidikan lebih lanjut.
"Meskipun beberapa barang bukti dan fakta-fakta yang ditemukan di sekitar TKP mengarah pada perempuan bernama Echa yang sebelumnya dilaporkan hilang, saat ini kami belum bisa mengumumkan secara pasti identitas dari kerangka tersebut karena masih menunggu hasil uji DNA," imbuhnya.
Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.